Bocah Penggema Azan

Termasuk 10 Besar Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

Bocah Penggema Azan

Oleh : Anindita Arsanti

 

            Mungkin salah satu hal yang sangat sering ingin dilakukan oleh anak albino seperti aku adalah merubah warna kulit sekujur tubuhku agar menyamai teman-temanku. Agar tak perlu lagi aku menunduk, saat ada orang yang menatapku lekat mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Agar tak perlu lagi wajahku memanas dan mataku berair, saat orang-orang itu kemudian mulai berbisik satu sama lain setelah menatapku. Agar tak perlu lagi aku mengadu pada ibu tentang segerombolan anak nakal di sekolahku yang sering mengataiku sebagai anak kena kutuk.

            Kulitku putih susu, sangat putih, terkadang agak kemerahan dengan bercak coklat. Rambut dan alis mataku pirang. Aku juga mengenakan kacamata tebal dan bertopi ke mana-mana, begitulah kurang lebih penampilanku. Sudah terlalu sering aku merasa dianggap aneh, ditolak dan tidak berguna. Tapi selalu ibuku-lah yang bisa mengembalikan senyumku. Ayah wafat ketika aku berumur lima tahun, dan aku anak tunggal.

Sebenarnya setelah mengadu pada ibu tentang ejekan teman-teman, seringkali aku menyesal. Karena kemudian, melalui mata yang berbicara, ibulah yang merasa amat bersalah atas keadaanku. Walaupun secara fisik orangtuaku tidak albino, ternyata mereka adalah karier atau pembawa gen albino dari anggota keluarganya terdahulu. Hal itu yang membuat aku terlahir tanpa memiliki pigmen melanin.

            Bagi kebanyakan orang berkulit cerah, terpapar sedikit saja ke sinar matahari akan menimbulkan warna cokelat kekuningan pada kulit, karena pigmen yang disebut melanin. Ia dihasilkan untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Namun pada albino sepertiku, tidak ada melanin pada kulit, rambut, dan mata. Hingga tanpa pigmen, kulit seorang albino akan mudah terbakar sinar matahari. Kondisi yang sangat tidak menyenangkan dan menyakitkan. Kulitku terasa tipis hingga mudah terluka. Dan jika sudah luka, akan sulit sembuhnya. Resiko terkena kanker kulit bagi kami pun lebih besar dibandingkan orang lain. Karena itu aku selalu menggunakan sunscreen, pakaian panjang, dan topi bila keluar rumah saat siang, untuk bersembunyi dari sinar matahari.

            Albinisme juga berdampak pada mataku.

            Jika kau memandangku, akan ada yang khas pada bola mataku. Pergerakan bola mataku akan tampak seperti tidak beraturan, selalu tampak bergerak ke sana ke mari. Apalagi ketika berhadapan dengan cahaya lampu yang benderang atau sinar matahari, sedapat mungkin aku akan berusaha menghindar. Karena mataku memang peka terhadap cahaya, mataku akan pedih jika terkena cahaya yang berlebih. Sebab itu pulalah, aku selalu seperti terlihat menjaga agar kelopak mataku setengah tertutup dengan selalu berkedip. Mataku juga hanya mampu melihat dalam jarak kurang lebih satu meter. Sehingga di sekolah, ketika guru menulis di papan tulis, aku sering kesulitan membaca dan mencatatnya di buku. Karenanya aku jadi repot, harus meminjam dan menyalin catatan milik temanku.

            ”Padahal, Alman sudah duduk di depan, Bu. Tapi tetap juga tulisannya tidak nampak.”     Beruntung saat ini mataku sudah dibantu oleh kacamata dengan lensa yang kuat untuk membaca, dan dengan warna agak gelap untuk melindungi mataku dari sinar ultraviolet.

            Begitulah.

            Albino tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikurangi dampak kesehariannya bagi penderitanya. Walaupun baru berusia 11 tahun, aku sudah disadarkan oleh ibu tentang keadaanku. Sedikit demi sedikit ibu mengajariku bagaimana menerima diriku sendiri dengan ikhlas, walau banyak orang lain yang belum bisa menerimaku dengan tangan terbuka.

***

            Dan seumur hidup, baru kali ini aku memiliki seorang sahabat yang bersedia membelaku mati-matian. Satu hal yang mungkin sederhana buat orang lain, tapi sangat berarti buatku.

            Jika hanya menuruti perasaan dan keinginanku, sebenarnya aku tak betah ke sekolah atau berkumpul dengan teman-teman sebayaku. Tapi tentu saja ibu melarang hal itu. Aku bisa semakin terpuruk jika begitu. Ia ingin aku bergaul normal dengan anak-anak lain.

            Saat itu jam istirahat sekolah. Tiba-tiba saja, duukkk! sebuah bola basket mendarat di kepalaku. Aku yang sedang berdiri di pinggir lapangan sebenarnya kaget, bahkan kepalaku terasa berkunang-kunang. Tapi lalu cukup sadar untuk kemudian tidak mencari tahu siapa yang melempar bola, dan mempermasalahkan bagaimana bola itu bisa sampai mengenai kepalaku setelah mendengar suara cekikikan beberapa anak. Aku tahu mereka, geng anak-anak nakal di sekolahku. Mereka mengetes kesabaranku lagi hari ini. Aku baru saja hendak menghilang dan melupakan kejadian itu, ketika tiba-tiba bola basket yang sama melayang kembali berbalik arah. Dan, buukk!! menghantam keras seorang anak di antara mereka yang sedang mentertawaiku. Segera darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya. Ia menjerit-jerit, dan keributan pun tak terhindarkan. Saat itulah aku pertama kali mengenal Rino, anak baru di kelasku, setahun yang lalu.

            Entah persamaan apa selain rumah kami yang ternyata berdekatan, yang menyebabkan kami bisa akrab, bahkan bersahabat. Aku anak yang pemalu, cenderung pasif. Sedang Rino anak yang pemberani, bahkan sering tidak berpikir panjang jika akan melakukan sesuatu. Tapi soal ke-setia kawan-an, ia nomor satu. Sekarang Rino adalah yang pertama membelaku jika ada yang berani mengganggu atau mengejekku.

            Ibu sebenarnya kadang kurang setuju aku dekat dengan Rino. Menurutnya, Rino sedikit bengal. Dan ibu tak mau aku ketularan bengal. Tapi aku tahu pasti Rino tidak seperti yang sering disangka banyak orang.

            Rino sering menyuruhku untuk melawan jika ada yang mengejek atau mempermainkanku.

            “Jangan hanya diam saja. Payah kamu, Man!” begitu komentarnya.

            Tapi aku mengartikan ke-diamanku sebagai caraku untuk menerima diriku apa adanya. Dan jika orang lain juga bersedia menerimaku, maka mereka akan berhenti sendiri mengolok-olokku tanpa perlu aku melawan.

            Aku ingin, ingin sekali diterima semua orang. Diakui keberadaanku. Tapi tidak dengan cara kekerasan. Aku ingin orang lain menerimaku karena mereka tahu bahwa selain memiliki kekurangan, aku juga memiliki kelebihan, kepandaian. Walaupun sampai sekarang aku juga belum tahu persis apa kelebihan atau kepandaian yang aku miliki.

            Aku ingin mendengar orang mengakui, bahwa walaupun albino, aku juga bisa membuat ibu bangga. Karena aku tahu ibu juga sedih jika aku diejek dan aku tak ingin hanya selalu membuatnya bersedih. Aku ingin sekali-sekali bisa membuatnya bangga. Aku sering mengungkapkan hal itu pada Rino.

***

 

            Ramadhan tahun ini sebenarnya tidak berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Sejak empat tahun lalu aku sudah sanggup berpuasa sebulan penuh, juga tak pernah absen solat lima waktu, mengaji dan tarawih.

Warung kecil kami pun bertambah ramai dengan aneka macam makanan kecil untuk hidangan berbuka. Aku rajin membantu ibu mempersiapkannya. Mulai dari membantu belanja bahan, mengolah aneka penganan itu di dapur hingga menatanya di meja kecil, di depan warung menjelang saat berbuka. Walau anak laki-laki, aku bangga mengerjakan semuanya. Baru hal itu yang bisa kulakukan untuk menyenangkan ibu. Ramadhan ini aku ingin sekali memberi ibu hadiah.

            Dan sudah sejak sebulan sebelum memasuki Ramadhan, pengajian anak-anak di masjid dekat rumahku, memberikan pelajaran tentang azan dan berbagai hal yang berhubungan dengannya. Kemudian setiap anak, termasuk aku dan Rino, diberikan kesempatan oleh imam masjid untuk menjadi muazin saat waktu maghrib tiba sebagai tes. Di luar dugaan, guru ngaji kami menobatkan kumandang azanku sebagai yang paling baik di antara semuanya. Lafazku tak hanya lantang tetapi juga merdu. Aku bersuka cita menerima pujian itu. Karena keterbatasanku, aku tak pernah jadi juara kelas, juara menyanyi, atau jago olahraga. Kali ini aku boleh sedikit bangga, sekarang setidaknya teman-teman ngajiku tahu aku jago azan.

            Sejak itulah aku menyukai azan. Panggilan yang sejatinya pengingat mahluk bumi agar tidak terlelap dan larut dalam kesibukan dan keasyikan dunia. Ia bukan hanya semata panggilan seorang muazin, tapi panggilan Allah kepada hamba-hamba pilihanNya, untuk meraih sukses dunia dan akhirat. Begitu saktinya panggilan itu hingga setan pun lari terbirit-birit ketakutan dan menjauh saat mendengarnya karena tidak ingin bersaksi pada hari kiamat atas apa yang mereka dengar. Dan saat Ramadhan seperti ini, azan menjadi suara yang paling dirindukan oleh kaum beriman.

***

             “Kita buka bersama, yuk, Man?” ajak Rino suatu sore setelah kami solat Ashar berjamaah di masjid.

            “Tiap sore kan udah buka bersama.” Aku tak paham dengan maksud ucapannya. Kami, anak-anak di kampung pinggiran ibukota ini memang hampir setiap hari berbuka puasa bersama di masjid. Warga akan bergantian menyediakan berbagai menu takjil sederhana secara sukarela. Setelah berbuka, acara disambung dengan solat maghrib berjamaah. Rutin seperti itu dari Ramadhan ke Ramadhan.

            “Ah, bukan  buka puasa di masjid sini.”

            “Terus, buka di mana?” aku mengernyit.

            “Di I-TV.” Aku tahu nama stasiun televisi yang disebut Rino. Setahuku pula, letak studionya lumayan jauh dari rumah kami.

            “Ngapain buka puasa jauh-jauh?” tanyaku polos.

            “Ah, kamu. Emang gak bosen buka puasa di masjid sini terus? Makanannya gini-gini aja. Buka puasa di sana ada artisnya. Kemarin Wahyu dan Nanang sudah ke sana. Sekali-sekalilah kita ke sana, sekalian refreshing,” Rino mulai mempengaruhiku.

            “Yuk??!”

            Aku diam. Sebenarnya bukan tak ingin, aku hanya bingung bagaimana cara meminta ijin pada ibu.

            Tapi Rino tak menunggu jawabanku, ia langsung menarik tanganku. Ia bahkan tak memberiku kesempatan untuk pamit dan meminta ongkos pada ibu. Dari masjid sebenarnya aku harus melewati rumahku untuk sampai ke jalan raya. Untung saat itu ibu sedang sibuk melayani pembeli, jadi tak sempat melihat kelebatan kami.

            Sampai di stasiun televisi itu, keadaan sudah ramai. Mereka memang mengadakan acara yang disiarkan secara langsung selama Ramadhan ini, saat menjelang waktu berbuka dan waktu sahur. Acara diadakan out door, di taman samping gedung dan selalu dimeriahkan oleh penampilan artis-artis terkenal dan ceramah dari dai dan ustadz kondang.

            Aku yang baru kali ini menghadiri langsung sebuah acara televisi, asik menyaksikan kesibukan di depanku, sambil masih menenteng sarung dan peci yang tadi kugunakan untuk solat Ashar di masjid. Penonton acara selain terbuka untuk umum, juga mengundang anak-anak sekolah, panti asuhan, ibu-ibu pengajian, dan beragam komunitas secara bergantian setiap harinya.

            Tapi dari berbagai kesibukan itu, ada yang paling menarik perhatianku.

            Tak begitu jauh dariku, seorang kru televisi tersebut mengumpulkan beberapa anak laki-laki sebayaku. Sepintas lalu kudengar mas kru itu bertanya pada mereka, ada yang sanggup azan dan baca doa buka puasa? Dan beberapa diantara mereka mengangguk.

            Aku menyenggol Rino yang juga memperhatikan mereka.

            “Mereka ngapain, No?” tanyaku. Rino mengangkat bahu.

            Rombongan itu lalu menjauhi panggung acara dan memasuki gedung.

            “Kita ikutin, yuk?” Sifat ingin tahu kami muncul. Aku dan Rino bergegas membuntuti mereka menuju sebuah ruangan di lantai dasar. Ternyata, anak-anak itu sedang mengikuti semacam tes. Ada beberapa kru lain di sana yang dengan khidmat mendengarkan kemampuan azan dan membaca doa buka puasa mereka. Selain itu juga dilihat penampilan dan keberaniannya untuk tampil live di depan kamera yang akan tayang secara nasional. Aku dan Rino mengintip dari sela-sela pintu yang tak tertutup rapat.

            Aku merasa hatiku bergejolak. Aku baru saja hendak membayangkan bagaimana bila ada seseorang yang memergoki kami mengintip lalu menyuruh kami masuk dan ikut tes, ketika tiba-tiba saja Rino mendorongku dengan keras hingga pintu ruangan di hadapanku terbuka lebar. Dan tahu-tahu aku sudah beberapa langkah masuk ke dalam ruangan itu, dengan semua mata yang ada di sana kemudian memandang serempak ke arahku.

***

            Malam hari sepulang dari I-TV, setengah mati aku berusaha minta maaf pada ibu karena pergi tanpa pamit dan pulang sangat terlambat.

            “Kamu pasti pergi karena diajak Rino. Sudah ibu bilang, Rino itu bandel! Jangan terlalu sering bergaul dengannya,” marah ibu tidak karuan. Sebenarnya aku tak tega juga Rino selalu dijadikan sasaran kemarahan ibu. Tapi aku diam saja tak membantah, hanya menekuri lantai.

            Dan keesokan pagi sebelum kemarahan ibu habis, setengah mati pula aku berusaha minta ijin untuk pergi berbuka puasa lagi di I-TV.

            “Aduh, Man. Ngapain sih buka puasa kok mesti jauh-jauh ke sana?!”

            Sebelum ibu menyebut nama Rino dan lebih jengkel lagi, beribu dalih dan alasan kukemukakan. Tentu tanpa menyebut alasan sebenarnya.

            Walau berat akhirnya ibu mengijinkan juga, setelah aku berjanji akan pulang sebelum waktunya solat tarawih. Sebelum pergi, aku berpesan keras, bahkan setengah mengancam pada ibu, untuk menyaksikan chanel I-TV di rumah pada saat berbuka nanti, tepatnya ketika azan maghrib tiba.

            “Biar ibu tahu juga acaranya nanti,” begitu alasanku.

***

            “Man, tenang aja, santai. Kamu pasti bisa, oke?” Om Erwin, produser acara itu, rupanya paham dengan yang kurasakan. Ia mengedipkan sebelah matanya sambil mengacungkan jempol ke arahku. Aku mengangguk. Selain Rino yang mengajakku ke mari, buatku saat ini, ia-lah laki-laki paling berjasa dalam hidupku. Ia yang kemarin memilihku untuk menjadi muazin hari ini, diantara beberapa anak yang diajukan padanya.

            Aku naik menuju sisi panggung sebelah kiri. Menarik napas panjang saat semua mata yang hadir mulai tertuju ke arahku.

            Dan bedug maghrib pun terdengar, dijemput semilir angin sore.

             “Allahu Akbar, Allahu Akbar…

            Akhirnya langit senja Ramadhan hari itu menjadi saksi panggilanNya yang kulafazkan. Dalam setiap lantun hanya wajah ibu yang terbayang dalam pelupuk mataku yang bergerak ke sana ke mari menghalau cahaya lampu. Tak lagi terpikir lagi olehku bahwa saat itu, mungkin ribuan bahkan jutaan pasang mata menatap wajah putihku melalui layar kaca sambil menikmati menu buka puasa mereka. Akan ada yang menatapku dengan pandangan aneh, biasa saja, penuh kagum, atau kasihan.

            Aku tak peduli, itu tak penting.

            Yang penting bagiku, ini akan jadi Ramadhan terindah saat sepasang mata ibu menatapku dengan bangga walaupun aku berbeda.

***

 

 

 


 

Cerita Untuk Sebuah Nisan

Termasuk 10 Besar Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

 

CERITA UNTUK SEBUAH NISAN

Syahrizal Bakhtiar

 

Aku masih ingat jari-jari tangan ibu meregang membentuk angka tiga. Matanya semakin sayu dan suaranya semakin parau. Dibisikannya sebuah kalimat di telingaku. “Nak, aku masih berhutang puasa tiga hari.”

Surau berteriak lantang kala seorang bilal mengumandangkan adzan diatas masjid kami yang belum selesai dibangun. Masjid kecil, hanya berdiri diatas pilar-pilar, berlantai tanah dipadatkan dan beratap kain terpal. Sekeliling masjid tertutup lembaran kain bekas spanduk jalan. Lampu terpasang pada beberapa titik dengan nyala semampunya. Lantai hanya beralas karpet berlubang dan tikar seadanya.

Walau begitu aku terharu pada semangat warga saat pertama kali Ramadhan datang. Semua barisan shalat dari depan sampai belakang penuh dan sesak. Semua jamaah berdesakan satu dengan lainnya memperebutkan tempat paling depan. Adapula dari mereka yang mencari tempat paling nyaman.

Bukan hanya ketika tarawih datang saja semua berdesakan. Saat waktu subuh berkumandang, orang-orang berbondong menuju masjid. Semuanya ingin meramaikan masjid. Belum lagi ketika maghrib tiba, masjid serupa pasar tumpah. Banyak orang datang berbuka dan jamaah bersama. Aku menjadi lebih bersemangat menyambut Ramadhan kali ini. Indahnya, seperti inilah rasanya ketika kita berlomba dalam berbuat kebaikan. Semuanya akan menjadi riuh dan senang.

Sayang, semuanya tak berlangsung lama. Suasana pada awal Ramadhan mendadak jadi langka. Keramaian pada saat subuh hilang entah kemana. Mendadak, acara buka bersama dan shalat tarawih berjamaah yang kami gagas kini juga sirna. Berulangkali lantunan adzan dari bibirku hanya didengar oleh segelintir orang saja. Terhitung sejak awal Ramadhan datang, barisan seperti makin menipis menginjak masa-masa pertengahan bulan.

Ada perasaan kecewa sekaligus sedih dengan beberapa orang yang meninggalkan masjid. Masjid ini masih butuh disemarakkan agar mereka semua merasa ikut memiliki, ini adalah milik mereka sendiri. Alangkah baiknya mereka meluangkan waktu untuk sekedar melihat lantai dari tanah yang dipadatkan, atap dari kain terpal yang mulai robek tersangkut besi bangunan atau pembatas bangunan dari kain spanduk jalan.

Tapi mereka semua tiba-tiba hilang. Sebagian dari mereka lebih banyak melewatkan waktunya dengan keluarga di depan teras sembari menghisap rokok batang. Menemani anak-anaknya bermain petasan yang mulai marak dijual di jalan. Bahkan, beberapa dari mereka sibuk mempercantik rumahnya dengan segala cara, mempercantik dirinya dengan pakaian-pakaian baru, sampai melengkapi mejanya dengan toples makanan ringan.

Aku menarik nafas panjang melihat mereka yang mulai menjauhi masjid lantaran mempersiapkan lebaran. Lebih tepatnya merayakan kepergian Ramadhan. Ibadah mereka sedikit demi sedikit mulai berkurang. Waktu dan kesempatan beramal untuk membangun masjid mereka sia-siakan.

Mereka belum tahu. Kalau saja aku menceritakan tentang bisikan terakhir untuk ibu, mereka akan menangis. Mereka akan sadar, kalau Ramadhan belum tentu akan datang kedua kalinya pada kita.

***

            Matanya semakin sayu dan suaranya semakin parau. Dibisikannya sebuah kalimat di telingaku untuk kedua kalinya. “Nak, aku masih berhutang puasa tiga hari.”

Sudah lama sekali kami berdua tak bertemu muka. Aku dan sahabatku. Kira-kira, terakhir bertemu setahun lalu.

Masa-masa indah diantara kami tak akan mudah terhapus begitu saja. Terlalu banyak kisah diantara leliku kami sepanjang perjalanan sekolah dulu. Tiba-tiba aku menjadi ingat saat kau mengajariku menghisap sebatang rokok sampai tenggorokanku serak. Aku juga ingat kita pernah berulang kali melompat pagar sekolah, meninggalkan pelajaran lantas kita terbahak diatas sebuah tikar bermain playstation.

Kami juga belum lupa dengan kekompakan kita satu kelas. Sesaat terbersit sebuah rencana untuk meninggalkan sekolah bersama. Kami berdua membuat seisi kelas mengamini rencana ini. Itulah kekompakan terbesar kami. Persahabatan semakin erat, kebersamaan semakin terjaga. Pun kami seolah hidup laiknya saudara sesusuan.

Ia pasti merindukan masa-masa yang sudah pernah kami buat. Sama sepertiku. Pasti ada rencana untuk menceritakan masa lalu kami, sampai menjadi sebesar ini. Pun juga sudah berubah. Ia ingin dengar cerita kesuksesanku, begitu juga aku. Aku juga ingin ia mendengar kisah kesuksesanku sampai sekarang.

“Zal, aku datang. Besok kutunggu kau dirumah selesai tarawih, kita berkumpul seperti dulu. Bersama teman-teman SMU. Seperti biasa, kutunggu dirumahku.” Sebuah pesan tertulis muncul di layar hapeku.

Aku menjadi bingung dengan perasaanku. Sesaat merindukannya, tapi ketika kesempatan itu datang, aku merindukan lainnya. Aku rindu dengan Ramadhan yang juga sepertinya. Hanya setahun sekali datang.

Malam ini, sepuluh malam terakhir sahabat. Aku merasa menyesal kalau kejadian dua tahun lalu terjadi kembali. Ia bilang cuma sebentar, sekedar temu muka biasa. Tapi ternyata bercengkrama habis-habisan semenjak selesai tarawih sampai sahur. Waktu kami habis di teras rumahnya. Sesekali kalau sudah bosan dengan bualan-bualan cerita, kami pergi dan menghabisi malam ke sebuah tempat. Kami bermain playstation sampai mata memerah. Sama seperti dulu saat sekolah.

Kami tertawa. Kami merdeka. Tak ada yang melarang. Dulu, sepuluh malam terakhir telah habis sia-sia dengan tawa dan bercanda. Sudah berapa malam terlewatkan, kami sudah lupa. Sepuluh malam terakhir serasa malam-malam kebahagiaan menjelang lebaran, bukan menjadi malam keramat sebelum perpisahan dengan Ramadhan.

Mereka belum tahu. Kalau saja aku menceritakan tentang bisikan terakhir untuk ibu, mereka akan menangis. Mereka akan sadar, kalau Ramadhan belum tentu akan datang kedua kalinya pada kita.

***

            Badan ibu terlihat lemah dengan bibir yang kering. Matanya semakin sayu dan suaranya perlahan makin hilang. Ibu berkedip memberikan isyarat. “Nak, aku masih berhutang puasa tiga hari.”

Perlahan, air mataku mulai mengalir selepas matahari terbenam. Diantara teriakan bahagia anak-anak kecil, aku seperti terjerembab di hutan kesunyian. Sekalipun banyak sekali keramaian mendadak muncul dari sekitar rumahku.

Tak terbayangkan, hampir sebulan telah habis waktu bersama Ramadhan. Bulan ini serasa menjadi sebuah masa yang begitu cepat sirna. Selama ini aku seperti mendapat banyak kebahagiaan. Suasana rumah menjadi riuh ketika waktu berbuka datang. Menjelang malam suara tilawah berkumandang setiap harinya. Sepertiga malam banyak disemarakkan dengan tangis dan harapan. Semuanya begitu hening.

Selama ini banyak sekali waktu yang sering kulewatkan untuk sekedar makan bersama dengan istri tercinta. Mungkin hanya makan pagi saja yang jarang terlewatkan. Ketika Ramadhan datang, kami lebih sering bertemu. Makan sahur dan waktu berbuka selalu kami lewati bersama diatas meja makan yang sama. Terlebih, banyak sekali waktu untuk bertukar pikiran dan belum tentu kudapati di bulan yang lain.

Kudekati jendela rumah. Perlahan, kubuka tirai rumah agar cahaya dan teriakan riuh dari luar membuat hatiku tenang. Jendela kubuka perlahan, kubiarkan angin masuk bersama suara anak-anak yang makin jelas.

Dari dalam, kuintip teras rumah tetangga menjadi riuh. Nampak mereka bahagia dikunjungi orangtuanya. Ada peluk hangat disana. Perlahan terdengar tawa lepas. Betapa bahagianya mereka, ketika kedua orangtua mereka bisa hadir, masih bisa ditemui. Dan ada waktu untuk bisa saling memaafkan.

Takbir pecah diatas petala langit. Semuanya melantunkan takbir tanda kemenangan. Tanpa terasa air mataku menganak sungai. Semakin deras melewati kedua pipiku. Buatku ini bukan sekedar takbir kemenangan, tapi juga tanda perpisahan. Perpisahan yang kami rayakan dalam kesyahduan, sembari terlantun sayup-sayup takbir kemenangan.  

Mereka belum tahu. Kalau saja aku menceritakan tentang bisikan terakhir untuk ibu, mereka akan menangis. Mereka akan sadar, kalau Ramadhan belum tentu akan datang kedua kalinya pada kita.

***

            Tubuh ibu menjadi dingin. Matanya meredup sembari memandangiku. Ada rasa menahan sakit yang begitu besar. Ibu menangis memberikan isyarat. “Nak, aku masih berhutang puasa tiga hari.”

Entah, sudah berapa lama ibu tergolek diatas kamar tidur rumah sakit dengan badan yang menggigil semenjak pagi. Hari itu, kondisinya jauh menurun. Detak jantungnya semakin lama semakin melemah hingga mendekati malam. Tapi, semangat sampai detik akhirnya tak pernah luntur sekalipun tubuhnya lemas. “Nak, aku masih berhutang puasa tiga hari.” Kalimat itu masih terlontar sekalipun dengan kedipan mata.

Suasana di sebuah kamar rumah sakit menjadi haru. Beberapa saudara telah datang mengelilingi ibu. Semuanya tidak tinggal diam. Ada yang membacakan ayat suci Al-Quran, mendoakan ibu dengan berbagai macam permintaan, atau sekedar memijit-mijit kaki sampai pergelangan tangan.

Hingga saat itu datang, aku telah mendampingi beliau menjemput sakaratul maut. Berulang kali aku bisikkan dzikir di telinganya, kubelai kepalanya yang mulai berkeringat. Semakin lama, aku semakin tidak tega. Hampir empat jam ibu tersiksa dengan kondisi demikian. Matanya sayu sembari menahan sakit ketika nyawa beliau hendak dicabut. Sekalipun sudah aku bisikkan keikhlasan di telinga ibu, nyawa belum ditarik sepenuhnya. Ada sesuatu ganjil yang masih mengganjal.

Entah mengapa, pagi itu ibu berulangkali mengkhawatirkan puasanya yang belum tertunaikan. Semenjak ibu dirawat di rumah sakit, ada tiga hari puasa terlewatkan karena ibu tidak sadarkan diri. Itu juga yang membuatku heran karena sepertinya ibu mengerti telah meninggalkan puasa tiga hari itu, padahal beliau dalam keadaan tidak sadar. Mungkin juga sebuah isyarat terakhir sekaligus amanah untuk segera kutunaikan.

Kudekatkan bibirku di telinga kanan ibu. Kurasakan kepala ibu makin basah. Nafas ibu mulai naik turun tidak teratur. Kubisikkan sebuah kalimat, perlahan, agar ibu tenang.

“Ibu, aku ikhlas jika ibu meninggalkan kami. Ibu masih memikirkan puasa yang belum tertunaikan itu kah?” kuhirup nafas panjang, sembari menahan air mata. “Insyaallah, kami akan menggantinya dengan fidyah, Bu.”

Tak lama berselang, ibu membuat raut muka tersenyum. Perlahan matanya tertutup dan nadinya makin hilang. Ibu telah pergi dalam suasana Ramadhan. Dalam sebuah bulan yang penuh dengan ampunan.      

Ketika pagi semakin tinggi, sesaat setelah takbir mulai senyap tertelan angin, kusempatkan sejenak waktuku untuk mendoakan ibu. Beruntunglah kalian jika pagi itu masih bisa meminta maaf pada ibu. Tidak sepertiku.

Begitulah aku setiap tahunnya saat lebaran datang. Selalu kukunjungi makam ibu dan kuceritakan sesuatu disana.

Aku duduk disamping sebuah nisan membawa sebuah cerita pada ibu. Kubisikkan perlahan pada ibu bagaimana suasana Ramadhan kali ini. Kukatakan padanya lewat sebuah nisan kalau aku telah banyak mendoakannya di waktu sepertiga malam. Kuhidupkan masjid dengan adzan dan tilawah untuk mendoakan. Kumanfaatkan tiap nafas Ramadhan untuk berlomba dalam kebaikan agar kelak kami dipertemukan.

Aku terhanyut dalam nuansa Ramadhan. Selalu. Semenjak mendampingi sakaratul maut ibu. Kejadian itu seakan mengingatkan aku bahwa Ramadhan bukan hanya sekedar untuk dilewati begitu saja bahkan disambut dengan dukacita. Tapi, Ramadhan laik dianggap sebagai kekasih yang ditunggu kedatangannya.

 

 

Nb: Kisah ini berdasarkan sebuah kisah nyata.

Dear Fattiahmed

Termasuk 10 Besar Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

DEAR FATTIAHMED

Dewi Yuliasari

Dear Barry,

It’s really nice to know you. Hope we can be a good friend forever.

Best Regards,

Fattiahmed

Alunan merdu Al-quran dari masjid didekat rumahku terasa lebih syahdu mengiringi kesucian bulan ramadhan yang indah dan terasa lebih berwarna saat aku menemukan foto gadis berwajah cantik dalam Yahoomail-ku, berkerudung pashmina menutupi rambut legamnya, menyisakan sedikit poni yang terlihat di bagian depan terlihat menyempurnakan setiap lekukan bentuk wajahnya. Hidung tinggi khas wanita Turki, mata almond besar dan bibir memerah tanpa pulasan lipstik. Cantik, sangat cantik, kesempurnaan ciptaan sang Khalik. Dengan bersemangat segera kubalas perkenalan itu.

Dear Barry,

Thank you for approving me as a friend. It’s such a great pleasure. Namaku Fattiahmed. Aku tinggal seorang diri di Turki. No brother, no sister. Ayah dan ibuku sudah meninggal sejak aku berumur 5 tahun, car accident. Berarti sudah 13 tahun aku hidup sendiri. Berat. Tapi aku harus bertahan. Bukankah hidup harus selalu dinikmatiJ

Best Regard,

Fattiahmed.

Wow! Menakjubkan sekali membayangkan gadis secantik Fattiahmed harus berjuang seorang diri di usia 18 tahun. Tough girl!

Dear Fattiahmed,

Tentu saja aku sudah tahu namamu sedari awal meskipun kau tak memperkenalkan diri padaku, lol. Senang mengenalmu Fatti. Bolehkah kupanggil seperti itu? Aku tinggal di Indonesia, tepatnya Bandar Lampung. Sebuah kota kecil yang nyaman. Belum begitu banyak polusi. Aku tinggal bersama orang tuaku.Mereka adalah pengusaha pemilik tambak ikan dan sebuah restaurant. At the weekend biasanya aku membantu mereka mengecek keuangan.

Warm regards,

Barry.

Lama sekali email itu tak berbalas. Sekitar satu minggu. Dan saat aku log in dan melihat nama Fattiahmed di salah satu inboxku, perasaan penasaran dan senang muncul begitu saja. Ada apa denganmu Fatti?

Dear Barry,

Maafkan aku karena tak membalas emailmu, Barry. Ada sedikit masalah yang harus kuhadapi seorang diri. Sekali lagi maafkan aku. Semoga kau tetap mau berteman denganku.

Love,

Fattiahmed

Masalah? Ya Tuhan, semoga semua baik baik saja.

Email itu tak dapat kubalas segera akibat padatnya tugas-tugas kampus. Seminggu kemudian kulihat beberapa email dari Fatti memenuhi inboxku. Isinya hampir sama, menanyakan keberadaanku. Tapi yang menarik adalah sebuah email yang terkirim tadi pagi.

Dear Barry,

Kemana sajakah kau? Rindu tiba-tiba saja hadir tanpa emailmu menyapaku.

Miss you,

 Fatti

What? Rindu? Fatti rindu padaku? Paparan rasa bahagia segera mengalir lembut dalam balasan emailku yang mulai terdengar syahdu merayu.

Dear Barry,

Percayakah kau pada ‘love at the first sight’? ah, terdengar bullshit. Tapi inilah yang terjadi.  Entah mengapa, semenjak email pertama, seperti ada magnet yang menarikku dalam kehidupanmu. Hidupku jauh lebih berwarna. Ada senyawa berenergi lebih untuk selalu tau tentang keadaanmu.

 Maafkan jika aku lancang, Barry.

Love,

Fatti.

Aku membelalakkan mata lebar-lebar. Love at the first sight?

Dear Fatti,

Tak ada kelancangan untuk seseorang jatuh cinta. Aku menghargai perasaanmu, Fatti.

Regards,

Barry.

Ada desir bahagia yang terasa semakin membuncah walau logika pun ikut bermain. Adat ketimuran yang kupegang erat menimbulkan tanda tanya tentang seorang gadis yang mengungkapkan cinta pada pandangan pertama?  Mungkinkah? Etiskah? Atau ini memang pengaruh budaya barat?

 Dear Barry,

Senangnya hatiku membaca emailmu.

My dear Barry, aku ingin bercerita banyak hal mengenai hidupku. Maukah kau mendengarkan? Aku adalah perempuan  beragama Islam yang memiliki banyak tekanan di negaraku. Perempuan  di sini tidak diperkenankan menggunakan jilbab. Seperti kau lihat dari fotoku. Jika ingin berjilbab maka kami tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan tinggi di universitas. Kecuali aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga. Sering aku dan teman teman  harus menggunakan wig untuk belajar di kampus  . Semua bertentangan dengan hati nuraniku, my dear Barry.

 Agama yang kami anut pun tidak sejalan dengan pemahamanku tentang ALLAH dan Al-Quran. Aliran Alevi. Pernahkah kau dengar kata itu? Agama yang  sebenarnya mengikuti ajaran Nabi besar Muhammad SAW tapi tidak melakukan shalat 5 waktu, puasa atau naik haji serta  tidak adanya pemisahan antara jemaah wanita dan pria. Burqa dan jilbab pun bukanlah pakaian wanita yang diwajibkan dalam aliran ini.

 Ahh, aku bingung dear Barry. Ingin rasanya aku keluar dari Negara ini. Kemana saja. Tapi siapakah yang sudi menampung tubuh hina ini? Terlebih dibulan suci seperti ini, betapa pilu menghampiriku. Aku ingin lebih dekat dengan Tuhan.

Love,

Fatti

Aku ternganga. Tak percaya dan  kasihan hadir bersamaan mengingat keadaan Fatti yang harus bertarung dengan nuraninya disana. Aku mulai terlibat lebih jauh dalam kehidupan Fatti.

Dear Fatti,

Hatiku sedih sekali mendengar penderitaanmu disana. Seandainya aku bisa, ingin rasanya aku membantumu. Mengeluarkanmu dari lubang penderitaan hidupmu. Ingatlah selalu Fatti, ketika wajahmu  penat memikirkan segala kesulitan dan pundakmu  tak kuasa memikul beban berat, maka bersujudlah. Ketika tanganmu letih menggapai asa, maka bertakbirlah. Ikhlaskan semua dan mendekatlah padaNYA.. tunduklah  disaat yg lain angkuh. Dan  tegarlah  disaat yg lain terhempas. Percaya hanya pada ALLAH SWT Fatti…

Love,

Barry

Kubayangkan Fatti di seberang sana dalam keadaan tertekan. Terus menangis meratapi nasibnya seorang diri. Tak ada sanak keluarga yang dapat meringankan beban hidupnya. Ah, Fatti.

Dear Barry,

Membaca kalimatmu, bagaikan ribuan percikan embun yang membasahi jiwa keringku. Kau menenangkanku. Seandainya aku mampu, kuingin menjadi cahaya buatmu walaupun tak tersentuh, tapi selalu menerangi. Ku ingin menjadi angin untukmu  walaupun tak berwujud, tapi selalu memberi kesejukan..

Kuingin menjadi orang terdekat bagimu walaupun tak selalu bersama menjalani hari, tapi selalu memberi kehangatan di hati…
Dear Fatti, 
Kau adalah cahaya untukku, Fatti. Kau adalah angin kesejukan bagi jiwaku. Seandainya ada yang mampu kulakukan untuk meringankan bebanmu. Maka dengan senang hati aku akan melakukannya. Berjuanglah selalu, Fattiku.
Love
Barry.
Aku menantikan balasan email Fatti dengan hati berdebar.
Dear Barry,
Aku menulis email ini dengan derai airmata. Saat kau melihat lebam di tubuhku, kaupun mungkin akan menangis. Tolong aku, Barry. Aku ingin pergi. Jauh dari tempat ini. Aku ingin berada didekatmu. Selalu bersamamu.
Pagi ini, saat kuputuskan untuk menggunakan jilbabku ke kampus, seorang tentara menarik paksa jilbabku. Dia katakan Negara Turki adalah Negara sekular. Jilbab bukan dipakai untuk kekampus. Hanya dirumah saja. Aku marah dear Barry. Islam adalah agamaku. Aku melawan. Tapi aku hanya wanita lemah. Tentara itu menghempaskan tubuh kurusku. Aku terjerembab, tepat diatas sebuah batu besar. Sakit my dear Barry. Tapi hatiku jauh lebih sakit. Tolong aku Barry!
In pain,
Fatti.
Aku termangu. Benarkah? Membayangkan tubuh Fatti yang terhempas keras diatas batu besar. Kejamnya.
Dear Fatti,
Katakan padaku, apa yang dapat aku lakukan untukmu?
Love
Barry.
Emailnya tiba tidak sampai satu hari, hanya berselang beberapa jam saja.
Dear my lovely Barry,
Aku semakin yakin bahwa Tuhan memang mengirimkanmu untukku. Aku menyayangimu my dear Barry. Aku mencintaimu. Ijinkan aku untuk selalu bersamamu. Begitu besar hasratku untuk bertemu denganmu.
Love,
Fatti.
Aku menahan nafas. Tak pernah kupungkiri pesona seorang Fattiahmed dengan segala kesempurnaan yang Tuhan telah berikan kepadanya Mungkin pula tentang kekuatan cinta terhadap Islam, agamanya. Dadaku bergejolak. Mungkinkah Tuhan memang mengirimkan gadis secantik ini untuk mendampingi hidupku?
Dear Fatti,
Aku tak tahu bagaimana cara untuk bertemu denganmu. Sedangkan kita terpisah jarak dan waktu.
Love,
Barry
Lagi dan lagi, balasan email itu langsung terkirim pada hari yang sama.
Dear Barry,
Kalau kau tak berkeberatan, aku ingin memohon pertolonganmu. Aku sudah mengepak semua barang-barangku. Telah kubulatkan tekad untuk pergi dari Negara ini. Tapi aku tak mempunyai cukup uang untuk dapat segera bersamamu. Warisan orangtuaku senilai US $ 50.000 semuanya berbentuk giro, bilyet  dan surat berharga. Aku harus memiliki wali untuk mem back up keuanganku. Maukah keluargamu menjadi waliku?
Kita dapat mencairkannya bersama sesampainya aku di Indonesia. Tapi untuk berangkat kesana tentu saja aku membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tapi jangan khawatir my love, aku akan mempercayakan semua warisanku di tanganmu. Kuserahkan segalanya termasuk hidupku padamu.
Saat ini yang kubutuhkan hanyalah uang sejumlah US $ 5000. Untuk transportasiku menuju Indonesia. Jangan takut, sesampainya aku disana, akan kuserahkan semua  surat berhargaku kepadamu, sayang..
Love,
Fatti
Sebuah lampiran yang disertakan Fatti didalam emailnya adalah gambar selembar cek yang dikeluarkan oleh sebuah bank Internasional bertuliskan No. CA 641276 dan kata CEK pada bagian kanan atas serta jumlah uang yang sangat fantastik,  US $ 50.000!  Terlihat asli. Aku mengerutkan kening. 5000 dollar? Cinta yang mulai mengisi relung hatiku tak serta merta melibas logikaku untuk begitu saja mengirimkan uang sejumlah $ 5000. Lagipula, darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?
Dear Fatti,
I am really sorry. I don’t think I have that much money. Maafkan aku. Apa yang harus kulakukan!
Love,
Barry.
Tanda seru yang mengakhiri emailku terdengar panik.
Dear Barry,
Bagaimana kalau US $ 4000? Segeralah, sayang! Ini nomor rekeningku 131000345675 a.n Fattiahmed.
Yang merindumu,
Fatti
Aku menaikkan sebelah alis mataku. US $ 4.000?
Dear Fatti,
Aku hanya seorang mahasiswa, Fatti. Darimana harus kudapatkan uang sebanyak itu?Apa yang harus kukatakan kepada orangtuaku jika mereka bertanya?
Love,
Barry.
Sent! Kata itu muncul dilayar laptopku. Dan segera berbalas.
Dear Barry,
Bagaimana kalau US $ 2000? Kurasa itu akan cukup membiayai perjalananku. Tolong aku my love. Aku ingin secepatnya bersamamu!
Love,
Fatti.
Ada yang aneh!
Dear Fatti,
Sekali lagi maaf, maaf dan maaf. Aku tak mempunyai uang sebanyak itu. Katakan apa yang harus  kuperbuat!
Love,
Barry.
Satu hari berlalu. Fatti tak membalas emailku. Seminggu menjelang. Fatti tak jua mengirim email. Dan ramadhan pun berakhir. Senandung Al-quran di sepertiga malam yang biasanya menemaniku membalas setiap email dikirimkan Fatti telah berganti menjadi suara merdu sang takbir kemenangan. Tak lagi terdengar sapaan my love, my dear Barry dan kalimat manis dari seorang wanita Turki bernama Fattiahmed. Dia menghilang begitu saja.
Senandung takbir kemenangan yang bergaung indah saling bersahutan dari masjid satu ke masjid lainnya itu akhirnya membuka mataku. Kisah cintaku bersama seorang Fattiahmed menyingkap sebuah tabir rahasia. Bahwa diluar sana, cybercrime masih terus mengincar, mencari mangsa. Sindikat kejahatan yang tersusun rapi masih bertebaran di jagat raya. Menghalalkan berbagai cara melalui tipu muslihat hingga menjual kebesaran sang maha pencipta, Allah SWT, dan memanfaatkan setiap kebaikan hanya untuk keburukan.
Seandainya setiap orang mampu bersikap seperti lebah.  Yang hanya makan makanan bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan yang dihinggapinya, pastilah takkan pernah ada kejahatan yang mungkin terbersit didalam hati. Good bye Fattiahmed…………

 

Love,

Fatti.

Hatiku kembali berdesir. Kubiarkan tanganku menari menguntai kata diatas tombol laptopku.

Kematian Sang Ayah

Termasuk 10 Besar Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

Kematian Sang Ayah

Muhammad Yusuf Efendi

 

Ramadhan hari ke-dua, hari itu udara kurasakan cukup panas untuk suhu rata-rata kota San Francisco. Kota ini terkenal dengan udara sejuk sepanjang tahun. Ketika melihat suasana kota akan kita lihat banyak wisatawan. Mereka datang dari daerah panas dan bersalju. Ingatanku terbawa saat aku pertama kali menginjakkan kakinya di kota turis ini. Terekam kuat di kepalaku ketika pertama kali datang di kota San Francisco tahun 2004. Bulan Agustus yang katanya sudah di tengah-tengah musim panas pun masih aku rasakan dingin. Bahkan aku harus melawan udara dingin dengan memakai jas kantor dan jaket Alpina yang aku beli di Bandung 13 tahun yang lalu. Jaket merah ini pertama menemaniku ketika akan berangkat belajar studi ke Jepang. Ketika jalan-jalan di tengah kota, aku lihat orang-orang di kiri kananku mereka memakai pakaian tipis. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan udara dingin musim panas di kota ini.

Telpon genggam blackberry merahku bergetar keras, pertanda ada telpon masuk. Aku tekan tombol hijau dan ku dekatkan ke telinga. “Assalamualaikum!”, kataku. “Waalaikumussalam,” jawabnya. Terdengar suara yang aku sangat aku kenal di seberang sana. Setelah ngobrol ringan saling menanyakan kabar, kemudian ia menyampaikan sebuah berita tentang meninggalnya seorang Muslim Indonesia di San Francisco. Ada sebuah permintaan darinya untuk membantu memandikan jenazah. Permintaan itu aku penuhi dengan senang hati. Hari itu memang hari biasa, banyak orang yang masuk kantor, dan tidak semua orang mempunyai waktu luang untuk bisa melakukannya.

Dengan bantuan GPS kecil di mobil, akhirnya aku temukan juga alamat gedung tempat pemandian jenazah. Masuk ke dalam gedung, dan tidak terlalu sulit untuk menemukan ruangan pemandian jenazah. Dalam ruangan kecil dengan tembok berwarna putih itu sudah tersedia lengkap alat untuk memandikannya. Selang air untuk memandikan dan sarung tangan plastik serta jaket putih plastik terlihat sudah di atas meja. Semua perlu steril dalam ruangan pemandian. Aku kenakan jaket putih dan sarung plastik secepatnya untuk menyambut kedatangan jenazah yang akan dimandikan.

Seorang kulit putih Amerika dengan badan tinggi dan tegap mendorong sebuah meja dengan bungkusan besar di atasnya. Sudah pasti yang didalam bungkusan besar itu adalah jenazah yang akan aku mandikan, mbatinku. Setelah mendapatkan penjelasan aturan-aturan yang harus ditaati menurut prosedur hukum Amerika, aku buka pelan-pelan bungkusan itu. Terlihat sebuah jasad yang terbujur kaku. Subhanallah. Semua manusia akan mengalami seperti ini. Yang tinggi pangkatnya atau yang rendah pangkatnya. Yang kaya atau pun yang miskin. Yang kuat atau pun yang lemah. Semua akan mengalami kematian.

Ketika aku sedang mandikan jenazah ini, dua lelaki setengah baya memasuki ruangan. Aku tidak mengira ketika mereka memperkenalkan diri sebagai anak pertama dan kedua dari bapak yang sedang aku mandikan ini. Dua pemuda itu menatap ragu ketika aku persilakan membantu memandikan jasad ayahnya yang terbujur kaku. Entah apa yang mereka rasakan dan fikirkan dengan jasad tua di depanku. Dengan sedikit paksaan akhirnya mereka mau juga memandikan jenazah ayahnya. Selesai memandikannya, aku meminta mereka mengambil air wudhu untuk persiapan shalat jenazah. Mereka berpandangan satu sama lain, tampak diwajahnya tidak paham apa maksud permintaan wudhu yang aku sampaikan. Oh dahsyatnya kehidupan di negeri ini! Aku tunjukkan wastafel kecil yang dapat dipergunakan untuk melakukan wudhu. Sayang aku tidak sempat untuk membimbing mereka melakukan wudhu yang benar, karena aku disibukkan dengan pemberian kain kafan untuk jenazah.

Setelah jenazah selesai diberi kain kafan putih, aku panggil pria tinggi tegap yang membawa jenazah ini tadi. Aku sampaikan bahwa pengurusan jenazah secara Islami sudah selesai, dan memintanya untuk ditempatkan di penyemayaman jenazah. Shalat jenazah rencana akan dilakukan di ruangan yang akan dihadiri oleh famili, saudara dan teman-temannya semasa hidup.

Seumur-umur baru pertama kali menjadi imam shalat jenazah di Amerika. Tentunya pengalaman yang sangat berkesan dan menjadi catatan sejarah hidupku. Shalat jenazah dihadiri oleh beberapa orang yang dapat dihitung dengan jari.

Setelah hadirin yang ingin berbela sungkawa berkumpul semua, kemudian dimulailah acara memorial untuk mengenang jasa dan kebaikan almarhum. Isi memorial ini mirip dengan kebiasaan orang-orang nasrani, mereka ada yang menyanyikan lagu untuk mengenang kebaikan si mati. Bahkan ada yang menyanyikan lagu tentang kebaikan ayah. Aku yang memang tidak mengenal baik lagu-lagu populer dan non populer hanya geleng-geleng kepala melihat suasana saat itu. Ada yang menangis dan ada yang sedih, dan ada yang hanyut dengan kenangan manis ketika si mati masih hidup. Ada yang membacakan puisi tentang kebaikan si mati. Tidak hanya sambutan dari bapak Konsulat Jenderal San Francisco, akan tetapi setiap organisasi yang pernah berhubungan dengan almarhum para wakilnya menyampaikan kesan-kesan selama beliau masih hidup. Bahkan dari putrinya pun menyampaikan puisi untuk sang ayah.

Kini giliran wakil dari pengajian San Francisco untuk menyampaikan kesan-kesan tentang almarhum. Ketika aku ditunjuk sebagai wakil pengajian untuk berbicara di depan, aku cukup keberatan dan bingung. Terus terang aku mengenal dan bertemu almarhum pertama kali, ketika memandikan jenazahnya di atas meja. Seumur-umur tidak pernah mengetahui tabiat dan kelakukan almarhum, karena memang tidak pernah bertemu sekali pun semasa hidupnya. Mendengar namanya pertama kali pun ketika mendapatkan telpon dari teman yang meminta untuk membantu pengurusan jenazahnya.

Aku putar kepalaku, aku aktifkan otak kiri dan kananku. Aku cari tema apa yang harus aku sampaikan di depan hadirin yang berasal dari kulit putih, hitam, kuning dan coklat. Aku yakin mereka sudah sering menghadiri pemakanan seperti ini. Mereka terbiasa dengan suasana seperti ini. Sedangkan aku baru kali ini menghadiri acara semacam ini. Acara yang sangat asing bagiku. Ternyata sangat sulit untuk menemukan tema yang pas untuk berbicara di depan hadirin dengan suasan ini. Terus terang aku tidak tahu sampai di mana batas kesopanan dan kewajaran, serta tata krama yang harus dilakukan dalam suasana duka seperti ini. Akhirnya aku beranikan diri membaca salah satu surat di Al-Qur’an, Fussilat(41) ayat 30- 38. Setelah aku yakin tidak ada seorang pun yang membaca ayat-ayat Al-Quran yang akan maju ke depan di depan hadirin. Ayat-ayat ini ada di halaman ke-empat dari surat Makkiyah, surat ke-41. Alhamdulillah, bagian surat ini aku hafal ketika masih di Jepang. Ketika aku sering berkumpul dengan teman-teman untuk melakukan kajian Islam secara intensif setiap pekan.

Ketika giliranku berbicara datang, aku hampiri istri almarhum yang duduk di deret paling depan sebelah kiri. Wanita tua yang sedang diliput suasana duka itu duduk dengan dikelilingi anak-anaknya. Aku bungkukkan badanku agar memudahkanku menyampaikan pesan yang ingin aku bisikkan.

“Ibu, bolehkah aku membaca surat Al-Quran di depan untuk kebaikan almarhum?” tanyaku pelan. “Iya pak, silakan,” balasnya pelan sambil mengusap air mata yang sedikit masih berlinang. Ucapan terima kasih yang keluar dari bibirnya semakin memantapkan niatku untuk membaca ayat-ayat yang mulia di depan hadirin.

Setelah berdiri di depan hadirin, aku sampaikan akan tujuanku berada di depan ini. Sebagai wakil dari pengajian San Francisco aku sampaikan dengan jujur bahwa aku tidak mengenal sama sekali almarhum. Bahkan mendengar namanya juga pertama kali ketika diminta untuk memandikan jenazahnya. Sehingga sangat sulit kalau aku harus menyampaikan kenangan-kenangan bersama almarhum. Aku sampaikan pesan bahwa sekarang almarhum memerlukan bantuan untuk keselamatannya menghadap Rabb Yang Maha Tinggi, Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebentar lagi ketika jenazah ini telah memasuki liang lahat, bapak ini akan menghadapi suatu perkara yang besar dan berat yang tidak pernah ia alami semasa hidupnya. Ia akan sendirian berhadapan dengan Malaikat Mungkar dan Nakir. Tidak ada teman yang menemani dan membelanya. Ia akan ditanya tentang kehidupannya selama di dunia. Dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat berat dirasakan oleh manusia. Karena itu ia memerlukan pertolongan dari kita semua yang masih hidup. Dengan doa, dengan memaafkan segala kesalahan dan kekhilafannya ketika di dunia. Khususnya adalah dari keluarganya, istrinya, dan anak-anaknya. Pesan terakhir ini aku tekankan dengan harapan akan ada perubahan dari anak-anaknya yang dulu pernah merasakan kenikmatan sebagai keluarga Muslim yang baik. Kemudian aku jelaskan makna yang terkandung dalam surat Fussilat yang akan aku baca secara singkat.

Ketika kurasakan sudah lengkap apa yang harus aku sampaikan, mulailah aku bacakan surat Fussilat di depan hadirin. Aku tidak hiraukan apa yang akan dirasakan oleh para hadirin dengan bacaan Al-Quranku. Yang aku inginkan adalah kesadaran akan para ahli warisnya, istri dan anak-anaknya. Agar mereka selalu mengingat Al-Quran kelak di sisa hidupnya. Aku hanya berharap semoga kenangan bacaan Al-Quran ini akan menggugah semangat hidupnya untuk selalu mengingat akan Rabb-nya yang Maha Agung nan Mulia. Agar mereka ingat bahwa ketika mereka dilahirkan terdengar adzan di telinga kanan dan qamat di telinga kirinya.

Selama aku bergabung dengan pengajian San Francisco, hampir tidak pernah bertemu dengan keluarga ini. Bahkan dalam ritual-ritual besar seperti shalat Ied sekalipun tidak pernah menemukan keluarga ini. Biasanya shalat Ied adalah acara yang hampir dihadiri oleh keluarga muslim, walaupun mereka tidak aktif datang di acara pengajian bulanan sekalipun.

Tidak sedikit orang yang menemukan Islam dan menjadi ulama besar di Amerika ini, akan tetapi tidak sedikit juga generasi yang hilang di Amerika ini karena pendidikan yang salah yang dilakukan oleh orang tuanya. Mereka tidak mengenalkan Islam dengan baik kepada anak-anaknya di bumi yang ganas ini. Mereka tidak mengajarkan huruf-hufur Al-Quran di bumi orang-orang yang memungkinkan untuk bergaul bebas sebebas-bebasnya. Mereka tidak mewariskan generasi yang kuat untuk menghadapai tantangan di negeri para koboi ini. Akhirnya mereka meninggalkan generasi baru yang tidak tahu harus bagaimana melakukan wudhu sekalipun. Walaupun itu adalah sebuah amalan yang ringan dan mudah dipandang oleh sebagian besar orang yang mengaku sebagai Muslim. Yang sangat menyedihkan juga adalah, bahkan mereka meninggalkan generasi yang tidak tahu bagaimana menghadapi jenazah orang tuanya yang telah meninggal dunia.

Aku yakin ketika keluarga ini datang ke Amerika, begitu besar harapan orang tuanya agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Pendidikan kelas internasional yang berbasis skala internasional. Mereka dapat berbahasa inggris dengan baik, mendapatkan pendidikan yang mendukung, mencapai taraf kehidupan yang lebih sempurna. Dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih mapan dan layak. Ketidakseimbangan dan kurangnya perhatian tentang ke-Islamanlah yang menyebabkan mereka termasuk generasi Muslim yang hilang di bumi Amerika ini. Kalau seandainya kakek dan nenek mereka mengetahui akhir dari cerita cucu-cucu mereka yang dahulu lucu-lucu dan imut-imut serta mengenal baik Rabb-nya, sudah tentu mereka tidak akan mengijinkan keluarga ini untuk menginjakkan kakinya ke tanah negeri sekuler ini.

Ramadhan tahun ini, sedang apa keluarga mereka saat ini ya, mbatin di hati kecilku. Ah, mungkin mereka sudah lupa dengan kematian ayah mereka, timbul kecemasan dalam dadaku. Bisa jadi mereka sudah disibukkan dengan kesenangan-kesenangan yang lain. Disubukkan dengan pesta-pesta dunia yang tiada berakhir kecuali dengan kematian. Semoga istri dan anak-anaknya masih dalam limpahan rahmat dan hidayah-Nya, pintaku di Ramadhan hari yang ganjil.

 

Malam Ke Dua Puluh Enam

Termasuk 10 Besar Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

MALAM KE DUA PULUH ENAM

Aditha Prawatyo

            “Idiih, ayah menangis. Ayah cengeng…,” anakku memergoki aku sedang menangis. Menjelang berbuka puasa di suatu ramadhan, saat itu aku sedang memegang dan membaca buku berjudul Dahaga. Sebelumnya kulihat anakku sedang asyik di depan komputer, browsing tentang lailatul qodar. Istriku sedang di belakang menyiapkan menu berbuka untuk kami sekeluarga.

Aku jelas kaget tiba-tiba dia mengatakan aku sedang menangis. Kukatakan padanya aku tidak menangis namun terharu. “Kalau ayah menangis tentu air matanya mengalir deras. Emang Biyyu lihat air mata ayah banyak yang keluar?” tanyaku padanya. Anakku hanya menggelengkan kepalanya. “Tapi benar kan, ayah menangis walaupun air matanya cuma dikit?” Pertanyaannya hanya ingin mempertegas keadaanku saat itu. Aku memeluknya dengan hangat, kemudian mengajaknya bicara.

Hari itu hari minggu. Setelah seharian kami disibukkan tugas masing-masing, sore itu sekitar jam setengah lima aku sengaja bersantai sambil membaca buku Dahaga. Dua hari lagi lebaran akan tiba. Setiap tahun, setiap menjelang dua hari lebaran, aku selalu ingat peristiwa yang mengubah diriku hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Sudah sejak minggu kemarin  Biyyu menanyakan tentang lailatul qodar. Tema ini pun selalu jadi materi “rohani” para pengisi ceramah tarawih diberbagai masjid menjelang 10 hari terakhir. Mereka semua berlomba-lomba menjelaskan makna lailatul qodar ini. Intinya, rugi jika kita sebagai umat Muhammad tidak memanfaatkan 10 hari terakhir ramadhan. Hal ini disebabkan selain pahala dan pengampunan dosa, Allah juga menjanjikan sesuatu yang besar bagi kehidupan manusia di dunia. Selama tiga minggu ramadhan aku sengaja berkeliling dari satu masjid ke masjid lain. Selalu berusaha mencari suasana lain disetiap masjid agar mendapatkan pencerahan lain dari banyak penceramah. Begitu menginjak hari kedua puluh, biasanya aku sudah mulai melaksanakan salat tarawih di masjid dalam perumahanku. Masjid ini belum lama diresmikan, bahkan takmir masjid pun belum terbentuk utuh. Tapi semangat warga muslim memakmurkannya sungguh sangat menggembirakan kami semua. Ini adalah kali kedua ramadhan digelar di masjid perumahan. Sebelumnya selama bertahun-tahun, kami melakukan salat tarawih memanfaatkan gedung serba guna yang ada.

 “Yah, aku sih udah paham tentang lailatul qodar. Dari hasil browsing diinternet juga penjelasan guru agamaku, sedikit banyak aku ngerti. Kali aja ayah punya penjelasan lain,” anakku membuka pembicaraan setelah melihat aku menangis tadi.

Kusampaikan padanya bahwa mengalami lailatul qodar bagi tiap individu berbeda-beda. Tidak ada yang sama satu sama lain. Juga belum tentu orang yang selama sepuluh hari i’tikaf di masjid otomatis langsung mendapatkan malam seribu bulan. Itu semua rahasia Allah. Hanya Allah yang berkenan memberikan hidayah-Nya kepada siapa pun yang dianggap sudah pantas menerima. “Bisa jadi, ada orang yang dalam sepuluh hari terakhir, secara tidak sengaja memperolehnya. Padahal dia tidak pernah berlama-lama i’tikaf dan hadir terus-menerus di masjid setiap malamnya,” kujelaskan pada anakku begitu.

Sekarang anakku duduk di kelas 2 SMP. Beberapa kisahku mungkin dapat diterima melalui olah pikiran, namun tidak jarang harus menggunakan keimanan yang mutlak. 

“Aku sudah berkali-kali i’tikaf  tapi rasa-rasanya belum mengalami lailatul qodar. Kalau ayah sendiri bagaimana?” dia ingin mengetahui pengalaman spiritualku memperoleh lailatul qodar.

“Ayah tidak pernah tahu apakah ini lailatul qodar atau bukan? Yang terjadi hingga sekarang pada diri ayah, ayah anggap sebagai berkah malam seribu bulan itu.”

“Apaan tuh, Yah? Kayaknya ayah biasa-biasa aja menjalaninya,” anakku mulai tak sabar mendengar ceritaku.

*****

Setelah sempat menganggur dan hanya menjadi agen pemasaran sebuah asuransi, aku akhirnya diterima disebuah perusahaan penerbitan. Sebagai seorang insinyur sipil, berkecimpung diusaha penerbitan jelas nyeleneh. Aku bisa masuk ke sini karena pemilik penerbitan ini adalah temanku semasa kuliah. Dia merasa kasihan padaku. Sementara usaha yang dirintisnya juga belum berkembang seperti sekarang. Meskipun sama-sama insinyur, temanku seorang aktivis kampus yang punya track record  bagus. Kemampuannya berorasi dan menuliskan ide, gagasan dalam koran yang mereka terbitkan, saat itu sangat brilyan dan menarik pembaca muda. Dukungan keluarganya memutuskan dia menekuni bisnis tulis-menulis dan penerbitan. 

Aku sesungguhnya tidak buta sama sekali tentang penulisan. Kebiasaanku membaca dijadikannya alasan menerimaku bekerja di perusahaannya. Pertama kali tugasku adalah membaca naskah-naskah yang masuk. Pekerjaan ini kulakukan bertahun-tahun hingga kacamataku pun tebal. Pada dasarnya aku adalah orang yang penyendiri, tidak suka bergaul, agak anti sosial, emosian, dan cepat merasa puas. Hal ini yang sering disampaikannya supaya aku mau berubah. Lebih membumi, katanya, supaya hidupku lebih punya arti luas.

Aku juga kurang mendalami agamaku secara maksimal. Salat lima waktu memang kujalani sebagai suatu kewajiban. Kadang ingat, kadang lupa. Bukan salat sebagai sebuah kebutuhan kepada Allah. Salat sunnah, nyaris tidak pernah kukerjakan.  Bulan ramadhan aku berpuasa, juga salat tarawih namun tidak pernah melakukan salat malam apalagi melakukan i’tikaf disepuluh hari terakhir ramadhan. Aku sempat merasa sendirian karena bangun kekeluargaan yang ada di perusahaan temanku diletakkan dalam kerangka islam. Dia menginginkan tegaknya islam melalui usahanya ini.

Tengah malam disuatu ramadhan, aku terbangun karena ingin ke kamar mandi. Selesai menuntaskan hajat aku langsung kembali tidur. Kulihat istriku juga masih pulas belum mempersiapkan sahur. Di tempat tidur aku sulit memejamkan mata. Mataku terbuka dan sepertinya jadi sulit dipejamkan lagi. Istri kubangunkan untuk menyiapkan sahur. Kugoyang-goyang, kutepuk-tepuk badannya, diam saja. Aku bangkit dan berjalan ke kamar anakku. Kulihat Biyyu pun masih nyenyak. Sejak kecil dia sudah kubiasakan tidur sendiri, saat itu usianya 7 tahun. Akhirnya aku hanya duduk-duduk di ruang makan, mengunyah sisa gorengan semalam. Malam itu merupakan malam ke dua puluh enam ramadhan. Artinya merupakan malam yang termasuk sepuluh hari terakhir ramadhan. Entah dari mana tiba-tiba berhembus udara dingin yang menyergap di belakangku. Hembusan yang cepat dan dingin membuatku terkejut, kemudian aku berdiri memastikan sumber hembusan dari jendela sebelah mana. Kuperiksa semuanya tertutup bahkan korden pun tidak bergerak-gerak. Bulu kudukku pun tidak berdiri, pertanda tidak ada makhluk alam gaib yang bersamaku. Namun seiring hembusan itu pula, aku dipaksa melangkah menuju pintu depan. Aku ikuti, kubuka pintu depan, dan terus melangkah merasakan hembusan itu. Aku sadar, aku berhenti di masjid tempatku bekerja. Rumah kontrakanku memang tidak jauh dari kantorku. Itu tahun ketiga aku bekerja di perusahaan temanku.

Di dalam masjid sudah banyak orang yang melakukan i’tikaf. Kulihat ada yang tadarus, berzikir, salat sunnah, atau sekedar membaca buku agama. Semuanya khusyuk melakukan sendiri-sendiri. “Assalamu’alaikum”, sahutku ketika masuk masjid. Beberapa orang menjawab salamku kemudian meneruskan lakunya. Ada sekitar dua puluhan orang di dalam masjid. Aku mengambil salah satu sudut masjid yang agak longgar dan langsung salat sunnah tahiyatul masjid. Pada saat aku takbir, baru teringat jika aku belum berwudhu. Aku keluar untuk berwudhu. Ini semua gara-gara aku terbawa hembusan udara dingin tadi. Singkatnya, malam itu aku melakukan ibadah sunnahku selama beberapa jam. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan selama bulan ramadhan. Aku hanya melakukan salah sunnah tahajud berulang-ulang dan kuakhiri berzikir. Lafal yang tiba-tiba keluar dalam kepalaku hanya astagfirullah dan subhanallah.

Sudah berapa kalinya aku melafalkan astagfirullah tiba-tiba aku merasakan dorongan yang kuat dari dalam. Mulai dari perut, naik ke rongga dada, lafal itu menggemuruhkan seluruh dadaku. Jantungku terasa memburu, berdetak lebih cepat dari detakan normal. Seperti ada sinyal yang maha dashyat, kuat menuju kepalaku dan seketika itu juga langsung menghujam kantong-kantong air mata yang berada dimataku. Aku menangis. Diawali tangis yang terisak-isak hingga tangis yang tersedu-sedu. Aku tidak dapat menguasai perasaan, emosi didadaku dan meledaklah tangisku. Aku sesenggukan menangis. Pipiku sudah dibasahi air mata yang bertubi-tubi keluar dan jatuh ke alas salatku. Dalam posisi duduk bersila badanku terkulai jatuh doyong ke depan. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku yang semula masih sempat mendengar sekelilingku tadarus atau berzikir, kehilangan suara-suara itu. Aku hanya ada dalam suasana sendiri dan menangis entah kepada siapa saat itu menangisnya. Lamat-lamat aku mendengar dan merasakan sentuhan dipundakku. Dia memanggilku, “Mas, mas …,” sambil membangunkan aku dari duduk bersilaku. Aku lantas terjaga dan tampak dihadapanku lima orang mengelilingiku. Dengan masih sesenggukan, aku berusaha menghapus air mata diwajahku. Sisi manusiaku seketika keluar. Aku merasa malu, tidak enak hati kepada orang-orang yang terganggu, yang ada di sekitarku.

Dari dua puluhan orang, hanya tersisa lima orang di masjid, dan merekalah yang menggugah kesadaranku dari zikir penuh tangisan. Satu yang kukenal di situ, beliau sesepuh kampung yang rajin beribadah di masjid tempatku bekerja.

“Subhanallah, nak…. Alhamdulillah, nak. Apa yang baru saja kau rasakan?” dia menanyaiku mewakili orang-orang yang mengerubutiku. Terus-terang aku bingung, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Mengapa aku menangis begitu hebatnya hingga membuyarkan zikir orang-orang di masjid? Aku cuma menggelengkan kepada, berterima kasih pada mereka, dan segera pamit pulang ke rumah. Ketika melangkah keluar masjid sudah menunjukkan pukul 03.30. Aku bergegas ke rumah untuk bersahur. Di jalan menuju rumah, terpaan udara pagi menyegarkan aku, menyadarkan aku lebih-lebih. Kupegang tanganku, kupegang pipiku yang basah. “Ini nyata, ini benar-benar terjadi padaku,” desahku sambil melangkah menuju rumah. Di kejauhan tampak istriku menunggu di depan pintu rumah. Dia menyongsongku dan langsung menghambur begitu melihat aku datang. Rupanya salah satu dari peserta i’tikaf, tetanggaku, mengabarkan keadaanku pada istriku. Aku tersenyum dan merangkulnya meskipun dia terus memberondongiku pertanyaan-pertanyaan.

Keesokan harinya berita menangisnya aku di masjid kantor tersebar. Pada saat doa pagi sebelum memulai pekerjaan, aku diminta oleh temanku, si pemilik perusahaan, untuk menceritakan kejadian semalam. Jelas aku malu, tersipu-sipu dibuatnya. Anehnya, aku begitu lancar menyampaikan peristiwa semalam tanpa bermaksud menggurui ataupun menyombongkan diri. Doa pagi yang seharusnya berlangsung lima belas menit molor hingga satu jam khusus mendengarkan pengalamanku semalam. Oleh teman-teman aku diminta bercerita hingga tuntas. Sesekali disela-sela aku bercerita ada yang menanyakan. Buatku tidak ada yang spesial karena semalam aku hanya menangis mengikuti dorongan hatiku yang begitu kuat ketika melafalkan astagfirullah .

“Kau tahu, Biyyu? Seminggu kemudian ayah begitu mudahnya menulis, menuangkan ide, gagasan, dan mengumpulkan banyak tulisan,” kusampaikan hal itu kepada anakku yang asyik mendengarkan ceritaku.

Aku juga mengatakan kepada anakku betapa hatiku lega luar biasa, dada rasanya dapat bernafas lebih segar dari biasanya, seperti sebuah kehidupan baru yang hadir. Dimata teman-temanku aku juga dianggap berubah, menjadi lebih terbuka, tidak gampang marah dan tidak emosian. Gampang bergaul dan menjadi pribadi yang menyenangkan. Seiring perkembangan usaha penerbitan tempatku bekerja, melaju juga karirku di situ. Aku kemudian dipercaya menjadi ketua redaksi dan senior editor. Aku sering diundang menjadi pembicara, menjadi trainer motivasi dan penulisan, juga mengisi ceramah tarawih dibulan ramadhan. Semuanya kuyakini karena kejadian pada malam kedua puluh enam beberapa tahun yang lalu.

“Ayah kali aja memperoleh lailatul qodar,” kata anakku menyela ceritaku. Aku hanya menggelengkan kepala. Kukatakan padanya, aku tidak tahu persis apakah tangisku itu pertanda Allah menurunkan hidayah-Nya padaku? Lagi pula itu bukan malam ganjil, seperti yang selama ini kita yakini akan datangnya lailatul qodar. Allah punya kuasa yang tidak pernah bisa dimengerti siapapun termasuk seseorang menerima lailatul qodar dimalam ganjil atau genap disepuluh hari akhir bulan ramadhan. Aku hanya menekankan itu kepada anakku. Kukatakan padanya, jadikan ibadah kita kebutuhan bukan kewajiban. Butuh pada Allah akan membuat diri kita lebih ikhlas dan tunduk pada ketentuan-Nya.

Kutunjukkan buku yang kubaca, Dahaga . “Ini karya pertama ayah yang diterbitkan. Isinya kumpulan cerita spiritual yang sempat ayah kumpulkan. Sumbernya dari berbagai masukan. Ada dari ayah sendiri, teman-teman di kantor, sahabat-sahabat ayah, pengalaman orang lain, juga naskah-naskah yang masuk,” aku menjelaskan tentang buku Dahaga. Untukku buku ini menjadi tonggak kebangkitanku. Bangkit dari kubangan ego dan kepandiran diri sendiri menjadi pribadi yang lebih manusiawi karena kuasa Allah Swt.

 

TAMAT ….. THE END …. SELESAI ……

 

 

 

Rumah Penuh Cinta

Termasuk 10 Besar Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

RUMAH PENUH CINTA

Oleh Christiadi

“Mirza!” panggilku sambil menuju ke kamar tidur anakku.  Kulihat Mirza bangkit pelan-pelan, menghampiriku dengan malas.  Wajahnya terlihat cemberut, bahkan terkesan marah.

“Apalagi sekarang?” sahut Mirza ketus.  Hah, aku jadi diam tertegun.  Aku tidak siap menerima sikap ketusnya yang muncul tiba-tiba itu.  Lupa sudah semua kata-kata yang tadi kusiapkan.  Aku bermaksud menyuruh dia mengerjakan hafalan Qur’annya setelah barusan aku suruh dia berhenti bermain dengan komputernya.  Untuk sesaat dadaku terasa sesak, ingin rasanya saat itu aku langsung mendekati dia, mengomel dan menjewer telinganya.

“Sabar, sabar, ini bulan Ramadan,” ujarku dalam hati, sambil mencoba menarik nafas panjang.  Sementara itu, dia masih memandangku, tak sabar.  Di mataku, dia sepertinya sengaja menunjuk-nujukkan ketidaksabarannya itu.  Akupun mengambil nafas, kali ini lebih panjang lagi.

“Sudah selesai belum hapalan surat Al-Ala-mu?” tanyaku kulembut-lembutkan.  Dia diam, dan kelihatan tidak nyaman kutanya seperti itu.

“Kamu harus memanfaatkan waktu Ramadan ini sebaik-baiknya, jangan Ramadan main game-nya malah makin rajin aja!” lanjutku.

“Iya iya Mom, nanti aku teruskan hafalannya” desahnya tak sabar ingin berlalu.

“Nanti itu kapan?  Kamu suka bilang nanti-nanti, tapi akhirnya toh tidak kamu kerjakan.  Lagian, sudah beberapa hari ini aku tidak pernah lihat kamu menghafal?”

“Iyaaaa, pokoknya nanti aku kerjakan Mom.  Lagian, aku kan tidak perlu menghafal di depanmu,” ujarnya menggerutu sambil mau berlalu.

“Eh ..mau kemana kamu, aku belum selesai bicara.  Mau main game lagi?” hardikku, yang sepertinya membuat Mirza makin gelisah.

“Mumpung ada kesempatan, kenapa nggak kamu lakukan sekarang aja.  Kamu kan nggak tahu nanti ada kejadian apa dan tiba-tiba kamu nggak sempat lagi”

“Aku ngerti Mom … tapi ..” keluhnya sambil menhentakkan kakinya.  Kutunggu sejenak tapi ternyata dia tidak melanjutkan kata-katanya, hanya melirikku dengan mimik protes.

“Sudah-sudah .. kamu kerjakan hafalannya sekarang saja.  Lagian ini kan bulan Ramadan, setiap perbuatan baik yang kamu lakukan di bulan ini pahalanya berlipat-lipat.  Jangan biarkan waktu terbuang dengan sia-sia.  Tuhan sudah memberikan bulan ini buat kita agar kita manfaatkan untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya dan menghapus dosa-dosa kita yang sudah menumpuk.”

Entah berapa kalimat lagi yang aku utarakan ketika kemudian kulihat dia komat-kamit, meledek sikapku yang mungkin dianggapnya tak habis-habis mengomelinya.

            “Eeh begitu kamu ya, berani kamu mengejek ibumu,” hardikku.  Tapi bukannya berhenti, Mirza malah makin berlagak menirukanku.

“Berani kamu ya.  Kamu anggap ibumu ini apa.. pembantumu? Kamu anggap aku ini cuma tukang masak, nyuci, tukang antar jemput?”  semprotku yang tanpa terasa ternyata sudah mulai berteriak.  Lalu tiba-tiba dia menutup kamar dengan keras dan menguncinya.

            “Mirzaa.. Mirzaa!” panggilku dengan suara marah.  Tapi Mirza tidak membuka pintu.  Aku tidak ingat persis bagaimana perasaanku saat itu, tapi yang pasti rasanya aku pingin menangis dan marah sekaligus.  Aku buru-buru menyingkir sebelum terlanjur melakukan atau mengatakan hal-hal yang nanti aku sesali.

Pandanganku bentrok dengan suamiku yang ternyata mengamati dari jauh.  Aku tidak tahu bagaimana raut wajahku saat itu, tapi melihat suamiku yang sepertinya ingin mengucapkan sesuatu, mungkin wajahku mengatakan “Mau bilang apa kamu?!”

            “Sebaiknya Mama beri Mirza ruang untuk dirinya sendiri.  Tidak setiap tindakannya harus diarahkan begini begitu, nanti dia malah tidak mandiri, tidak percaya diri,” ujarnya pelan, tapi di telingaku itu terdengar seperti dia bicara sambil menuding-nuding mukaku.  Belum sempat aku bereaksi, dia menambahkan lagi,

            “Tidak setiap perintah selalu harus disertai dengan ceramah.”

Ucapan terakhirnya itu seperti minyak disiramkan didaku yang sudah panas.  Uuh, dadaku serasa mau meledak.  Aku tidak tahan lagi.  Kutatap mata suamiku dengan tegas.

            “Bapak ini bisanya cuma protes aja tapi tidak mau terlibat langsung.  Kalau cuma protes semuanya juga bisa.  Ngomong sih gampang.  Coba dong ikutan ngurus, jangan cuma di depan komputer terus tahu-tahu main protes.  Apa saja yang aku lakukan untuk mendidik anak, Bapak ini tidak pernah mendukung.  Maunya anak dibiarin aja ngerti sendiri.  Mereka itu tidak akan ngerti sendiri Pak. Apa Bapak nggak tahu di luar itu Mirza bergaul dengan siapa.  Kalau tidak kita omongin dia terus-terusan, entah apa jadinya,” semprotku.

Entah berapa lama aku mengomel berusaha melampiaskan kemendongkolanku.    Tapi melihat suamiku diam terus, akupun mulai jengah dan akhirnya ikutan diam, meski sebenarnya pelampiasanku belum tuntas.  Aku mencoba menyabarkan diriku.  Ah, hampir saja aku minum seteguk air putih!  Kuambil nafas panjang, lalu pelan-pelan beranjak ke tempat tidur.  Kepalaku terasa berat dan aku merasakan kepenatan yang luar biasa.

Pelan-pelan terbayang kembali saat-saat kami pindah ke Riverside, California, saat-saat dimana kami berjuang untuk menyesuaikan diri dengan roda kehidupan di kota ini.  Mirza telah banyak berubah.  Di Jakarta dulu dia rada pemalu, tapi setelah beberapa tahun di Riverside ternyata dia sudah banyak mempunyai teman.  Aku dan suamiku senang sekali melihat Mirza tumbuh menjadi anak yang pintar.  Yang menurut kami berbeda antara Mirza dengan saudara-saudaranya di Jakarta adalah dia lebih mampu dan lebih berani mengungkapkan pendapatnya.  Kami sering terkejut-kejut mendengar pendapat-pendapatnya yang begitu asli, baru, dan sering di luar dugaan

Meski tidak gampang, tapi kami berhasil membujuk Mirza untuk mengikuti sekolah Minggu di masjid di kota kami dimana dia belajar Islam dan membaca Qur’an.  Hanya setelah Mirza menginjak remaja umur 13 tahunan, aku merasa dia mulai menjauh dan mulai berani membantah kata-kataku.  Aku merasa bahwa aku belum menyiapkan Mirza dengan baik.  Aku merasa bahwa Mirza belum memiliki pengetahuan Islam yang cukup buat menjadi bekal hidupnya kelak.  Akan tetapi sekarang kesempatan untuk mendidik Mirza terasa semakin terbatas saja.  Akupun mulai sering merasa khawatir.

Kekhatiranku ternyata tidak hanya itu.  Lambut laun aku mulai merasa bahwa Mirza tidak lagi menghargai dan menyangiku seperti dulu lagi.  Dulu dia selalu menurut.  Dulu dia sering bilang “I love you Mom” tapi sekarang tidak pernah lagi.  Kalau melihat tingkah lakunya yang kadang-kadang seperti meremehkanku, akupun mulai sangsi.  Oh kemana perginya semua rasa sayangnya padaku yang dulu?

“Ma.. sudah Maghrib,” ujar suara yang membangunkanku.  Kurasakan tangan suamiku menggoyang-goyang bahuku dengan halus.  Aku bangun agak terkejut.  Cepat aku tersadar bahwa aku ternyata tertidur dan lupa menyiapkan buka puasa.  Tapi secepat itu pula aku teringat lagi peristiwa yang menyakitkan hatiku.  Tanpa sadar aku sudah memasang raut wajahku yang masam.

“Hmm ..!” ujarku dingin sambil bangkit.  Di ruang makan, ternyata makanan beserta piring dan gelasnya sudah disiapkan oleh Mirza dan suamiku. 

“Terima kasih,” batinku, tapi di luar aku tetap diam dan berusaha untuk tetap cemberut.

“Mirza, kita berdoa dulu sebelum buka,” ujar suamiku.  Biasanya aku yang selalu membaca doa pembuka puasa.  Tapi tentu saja kali ini aku tidak mau melakukannya di depan mereka.  Kalaupun mau, paling juga kulakukan dalam hati saja.  Kulihat suamiku member isyarat dengan kepalanya ke Mirza untuk membaca doa.

“Mana Mirza tahu!” pikirku.

“Rasain, sekarang mau berdoa bagaimana kalian” batinku lagi.

Allahumma laka sumtu, wabika amantu, wa’ala rizqika afthortu …,” ucap Mirza.  Aku terkejut girang.  Alhamdulillah, ternyata Mirza hafal semua doa itu.  Tapi tidak kutunjukkan kegiranganku.  Apalagi kalau kulihat wajah Mirza dan suamiku yang tenang-tenang saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa, boro-boro merasa bersalah, maka rasa jengkelkupun kambuh lagi. Semakin kukatupkan bibirku dan kutunjuk-tunjukan kedinginanku.

            Kami tetap saling diam hingga buka puasa selesai.  Tapi tak urung, ketika sambil membereskan piring dan gelas, suamiku sempat bilang terima kasih.  Meski sedikit terhibur, kukuatkan diriku untuk tidak terlalu menanggapi ucapannya.

“Hm..” dengusku.

Hanya ketika malam itu suamiku memelukku di tempat tidur sambil minta maaf, rasa marahku padanyapun mencair.  Aku balas sentuhan tangannya.  Toh marah itu sendiri memang membebani pikiran dan dengan memaafkan ternyata beban itupun berkurang. 

            Esok harinya, hari Sabtu, tiba-tiba aku kehilangan Mirza.  Aku tidak lihat dia di rumah.  Aku longok kamarnya, ternyata kosong.  Tapi melihat kamar dia yang berantakan seperti kapal pecah, kejengkelanku bangkit lagi.

“Anak ini bener-bener perlu diajar disiplin, perlu diajarin bagaimana menghargai orang tua.  Ini akibatnya kalau anak sering dibiarkan begitu saja,” gerutuku dalam hati.  Aku tinggalkan kamarnya Mirza.  Aku lihat suamiku seperti biasa sedang duduk di depan komputer.

“Pak .. lihat tuh kamar Mirza berantakan … kalau kita nggak ajar disiplin nanti dia akan begitu terus!” ujarku sambil tetap berusaha menjaga agar suaraku terdengar sedingin mungkin.

            “Mirza lagi ke rumah Robin.  Habis sahur, seharian dia ngapalin Al-Ala, jadi nggak sempat mberesin kamarnya,” jelas suamiku.

            “Ngapalin Al-Ala?  Benar-benarkah dia ngapalin Al-Ala seperti yang dikatakannya? Hm akan kuminta dia membuktikan ucapannya nanti,” batinku mendengar penjelasan suamiku.  Meski dalam hati aku berharap bahwa apa yang diceritakan suamiku itu benar adanya, tapi aku tetap saja khawatir bahwa Mirza hanya membuat-buat alasan belaka.

            “Sudah.. tolong suruh dia beresin kamarnya nanti,” kataku masih mencoba terkesan sedingin mungkin, sekaligus memberi tahu bahwa aku masih belum mau bicara dengan Mirza.

            “Yes Mam ..” seloroh suamiku.

“Nggak lucu!” batinku.

Sedang asyik bekerja di dapur, tiba-tiba kudengar seseorang berteriak.

“Mom… Mom..!” Aku kenal itu suara Mirza.

“Mau apa dia,” pikirku.

“Memangnya mau main ngomong gitu aja tanpa minta maaf dulu .. enak aja!” batinku lagi.  Kulihat Mirza muncul dari belakang rumah sambil membawa tas plastik entah apa isinya.

“Mom .. ini aku dapat buah alpukat dari tetangganya Robin” ucap Mirza setengah berteriak dan setengah berlari.  Kulihat wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan.  Aku tertegun, juga terheran-heran.  Bagaimana dia bisa mendapatkan alpukat sebanyak itu, dan bagaimana dia bisa kenal dengan tetangganya temannya Robin itu.  Meski lega dan senang sekali, rasa marahku ternyata masih belum habis.  Aku masih diam saja, tapi kuhampiri dia dan kuterima tas plastik berisi buah alpukat itu.

“Dari mana kamu dapat buah itu Mirza?” tanya suamiku yang ternyata sudah ikut nimbrung.

“Dari tetangganya Robin.  Aku sedang bermain dengan Robin, sekalian mengerjakan proyek, terus aku lihat tetangganya sedang panen buah alpukat,” ujar Mirza berseri-seri.

“Emangnya kamu kenal dia?” tanya suamiku, yang mewakili pertanyaanku juga.

“Enggak kenal, tapi karena aku ingat ini buah kesukaan Mom, maka aku beranikan diri mendekati dia”

“Tadinya aku cuma mau beranikan diri minta satu dua saja, tapi kemudian dia menawari Robin kalau dia berminat membantu memanen buah-buah alpukat itu dengan imbalan nanti dia akan diberi satu tas alpukat.  Robin mau.  Setelah itu, dia menawariku juga” tutur Mirza masih dengan wajah masih berseri-seri.

“Wah bagus sekali Mirza .. Mamamu pasti senang,” ujar suamiku sambil menepuk-nepuk bahu Mirza.  Mirza tersenyum senang, sambil mencoba memandangku.  Aku masih menahan diri.  Aku paksakan untuk tidak tersenyum, tapi tak urung meski datar, kuucapkan juga terima kasih pada Mirza.  Segera aku bawa alpukat itu ke dapur.  Tak tahan, kuambil beberapa buah alpukat kegemaranku itu.  Aku pegang-pegang dan usap-usap.

“Wah bagus, besar-besar dan masih segar lagi,” nilaiku.

“Terima kasih anak-ku, ternyata kau tahu buah kegemaran ibumu, ternyata kau masih menyayangiku,” kataku pada diri sendiri.

Langit dari jendela dapurku terlihat cerah, dan hatiku terasa ringan.  Kukemasi kembali buah-buah alpukat itu.  Ketika aku menyimpan buah-buah itu di lemari, tiba-tiba aku terbayang kembali wajah Mirza yang berseri-seri penuh kebanggaan dan setengah berlari ingin menyerahkan buah-buah itu kepadaku.  Tanpa terasa mataku menjadi hangat.  Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak di dadaku.  Oh anak-ku, betapa kejamnya ibumu.  Sudah seharusnya aku menyambut pemberianmu tadi dengan suka cita dan wajah berseri-seri.  Sudah sepantasnya aku memelukmu dan melampiaskan rasa terima kasihku selepas-lepasnya.

“Mirzaaa!” teriakku.

“Ya Mom ..” kata Mirza yang datang kemudian.

“Gimana hafalanmu, sudah selesai belum?”

“Ya Mom, sudah.”

“Bener?”

“Iya Mom sudah!”

“Jadi kamu benar-benar sudah hafal surat Al-Ala?”

“Iyaaa … sudah!” ujar Mirza mulai terdengar sedikit menggerutu.

“Ya sudah.. sekarang kamu bereskan kamarmu yang berantakan itu!” ujarku sehalus mungkin.

“Tapi Mom ….”

“Sssh .. kamu lihat kamarmu itu, seperti kapal pecah!” ujarku sambil berlalu dan balik lagi ke dapur.  Aku yakin, meski menyuruh, nada suaraku pasti terdengar ramah.

“Anakku, hari ini akan kumasakkan makanan kegemaranmu,” jeritku pada diriku sendiri.

Hatiku makin terasa ringan dan rasa penatkupun tiba-tiba hilang.  Hari itu, memasak terasa begitu menyenangkan.

 

#######

 

Morgantown

August 12, 2011

Sepotong Isyarat Untuk Kukun

 

Termasuk 10 Besar Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

Sepotong Isyarat untuk Kukun

(Dwitya Sobat Ady Dharma)

 

Simbok membukakan pintu depan dengan muka yang berbinar. Ia menatapku erat dengan bibir yang tersenyum melingkar pertanda ada rindu yang membuncah. Aku kemudian mencium punggung tangannya dan ia pun lantas menghujaniku dengan ciuman hangat di pipi. Tanpa kusadari, buliran kristal itu bergerombol di sudut mata dan mulai membentuk cawan yang siap mengalir. Memang, sudah begitu lama aku tak melakukan hal ini. Aku membiru.

Setelah beberapa saat beradu rindu, aku lantas menuju kamarku, kamar yang sudah hampir dua tahun lalu kutinggalkan. Kusibak gorden berwarna lembayung dan kulihat tumpukkan buku-buku SMA tersusun rapi di sudut kamar. Itu pasti buku milik Hanafi, adikku satu-satunya.

Setelah berganti pakaian, aku segera menyusul Simbok di dapur yang sedang membuat teh melati. Asapnya mengepul menyentuh hidungku yang memang kangen dengan aroma ini. Aku berjalan mendekati dan terduduk di dingklik[1] tepat di samping luweng[2] yang abunya belum sempat dibersihkan oleh Simbok.

“Bapak mana, Mbok?” kataku seraya menatap langit-lagit dapur yang penuh dengan sawang[3] jelaga.

“Bapakmu masih di sawah, Le.”

“Kalau gitu, tak susul ya?”

“Mbok yo nanti saja. Istirahat dulu. Ini tehnya diminum sik. Paling bapakmu juga masih repot. Kalau mau nyusul, habis dzuhur saja.” Aku mengangguk dan menghela nafas panjang sembari menyeruput teh mendidih itu yang memberikan sensasi terbakar di ujung lidah. Aku menggoyang-goyangkan mulutku.

Aku melihat ada semburat kegelisahan yang menggelayuti wajah Simbok. Apa karena aku yang sudah tak melihat Simbok selama dua tahun ini sehingga merasakan hal yang berbeda? Tapi kupikir bukan itu. Aku melihat mata Simbok tak berbinar seperti biasa, itu pertanda memang ada yang mengganjal di hatinya.

“Mbok, ada apa tho. Ada masalah, ya?”

Ora kok, Le.”

“Ah, Simbok ini. Kalau tak ada masalah kenapa sampai nelpon segala. Disuruh pulang secepatnya.”

Simbok lalu menatapku sayu. Manik matanya sejuk namun terkesan dingin. Tak biasanya ia begini. Ia lalu mendekatiku dan mengusap tengkukku. Sempat kurasakan tangan kasarnya karena terlalu lama bergelut dengan alam itu menepuk ubun-ubunku dan kemudian ia menciumnya.

“Mbok, ono opo tho?[4]

“Nunggu Bapakmu saja ya.”

Ia lalu meninggalkanku sendirian terduduk di atas dingklik. Pikiranku melayang tak karuan. 

Aku lantas menuju pintu dapur dan melihat sekelilingnya. Aku kemudian menuju lincak yang tepat berada di samping tumpukan kayu bakar. Kuamati sekelilingku. Tampak banyak yang berubah. Rumah mbah Juminem yang dulu belum diplester dindingnya, sekarang sudah tampak rapi dengan cat putih gading. Bahkan di samping jalan desa yang dulu adalah semak belukar, sekarang bermunculan konter-konter hape dan warung-warung kelontong. Ah, semua ini hanya perlu berubah dalam kurun waktu dua tahun saja.

 Namun, di antara kemegahan itu, rumahku merupakan salah satu yang tidak banyak berubah. Dindingnya masih gedhek[5], begitu pula kebun di samping rumah yang masih saja ditanami ketela pohon dan berbagai macam apotek hidup.

Aku kembali menyeruput teh dan menghela nafas panjang. Uap teh beradu dengan rongga hidungku. Pikiranku kembali berkecamuk. Ada apakah gerangan sampai Simbok rela datang ke wartel hanya untuk meneleponku? Apakah ia marah gara-gara selama hampir dua lebaran aku tidak kembali ke rumah ini? Lebaran tahun lalu pun aku tak mudik dengan alasan mengurus masjid. Juga berbagai macam amanah kerjaan yang mulai menyesakkan dada. Aku menutup mataku pedih. Simbok, Bapak, maafkan anakmu ini jika melukai hati kalian.

***

Alunan adzan dzuhur mulai menggema di kejauhan. Aku lantas keluar dari kamar dengan mengenakan koko yang kubeli dengan hasil keringatku sendiri. Sebetulnya sejak semester tiga, orang tuaku tak lagi mengirimkan uang. Bukan apa-apa, biarlah uang yang Simbok dan Bapak kumpulkan setiap hari sebagai buruh dapat digunakan untuk membayar sekolah Hanafi. Juga untuk biaya cek kesehatan Simbok yang kadang membuat aku khawatir. Biarlah, aku mencari uang sembari kuliah. Meskipun hasilnya kecil, aku tetap bersyukur, sebulan aku bisa dapat 500 ribu. Jumlah yang besar jika dibanding uang bulanan yang Bapak kirimkan.

Aku melangkah keluar dan memberi salam pada Simbok yang sedang mengupas singkong di teras rumah. Simbok mau membuatkan makanan kesukaanku sejak kecil, telo[6] goreng yang lezat! Kalau boleh dibilang, itu camilan favoritku. Selain tak perlu beli karena ditanam sendiri, juga biasanya dulu ketika SMP, Bapak selalu mengajakku untuk menggalinya bersama Hanafi. Kami bertiga berjuang sekuat tenaga. Setelah bersusah payah, biasanya Simbok langsung menyuruh kami istirahat sembari menunggu telo goreng yang digoreng Simbok di dapur menggunakan tungku kayu bakar. Aku dan Hanafi kadang berebut untuk menghabiskannya, meski gigi kami sering ngilu karena makan makanan yang terlalu panas. Kami sering malu sendiri karena diamati Bapak dari kejauhan.

Aku berjalan menuju masjid yang berjarak seratus meter dari rumahku. Aku menyapa beberapa warga desa yang kutemui. Kemudian tanpa segaja aku melihat Joko, teman SMA-ku. Dulu saat aku akan kembali ke Bogor, aku melihatnya bergandengan mesra dengan pacarnya yang tak mengenakan hijab lengkap. Tapi kini? Subhanallah!! Aku tak percaya. Aku lantas mengucapkan salam padanya. Mataku tak bisa terpejam. Penampilannya sungguh berbeda dari dua tahun yang lalu. Ia mengenakan jubah dan sekerat jenggot rimbun nyaris menutupi janggutnya.

“Eh, Baequni. Kapan balik?” dia berkata seraya mengusap keningnya yang memerah. Kurasa ia baru saja dibekam.

“Tadi pagi, Ko. Oh, ya. Kegiatan jenengan sekarang apa, nih?”

“Masih wara-wiri nih, Kun.”

“Wah, sibuk nih! Oh ya, rumahmu masih di samping Mbah Toyo?”

“Iya masih. Tapi mungkin bentar lagi aku mau pindah.”

“Lho, kenapa?”

“Nggak kenapa-napa kok,” ucapnya singkat dan datar seraya memutar bola matanya. Ia sedikit tertunduk saat melihat orang memperhatikannya. Sesaat kemudian ia pamit dan melenggang pergi. Aku terdiam sejenak dan segera meneruskan perjalananku menuju masjid dengan pikiran yang mengganjal.

 

Aku membelalakkan mataku lebar-lebar, terperangah takjub. Masjid desaku telah banyak berubah. Serambi di ujung timur telah dilebarkan dua kali lipat. Juga halaman yang dulu masih tanah merah sekarang telah dipaving. Aku merasa telah meninggalkan desaku selama lima tahun, padahal baru dua tahun.

Aku menapakkan kakiku mantap. Aku salami beberapa takmir yang dulu sering memintaku untuk mengajar anak-anak TPA setiap Senin dan Kamis sore. Namun setelah aku lulus SMA dan kuliah di Universitas ternama di Bogor, otomatis tugas itu dikerjakan oleh remaja yang lain. Adikku kala itu masih SMP kelas 1, jadi kurang begitu paham dan agak pemalu. Lagipula Simbok sering melarang Hanafi untuk ikut kegiatan Masjid. Agaknya Simbok mulai termakan pembicaraan miring.

Aku masuk melintasi serambi tempat aku mengajar dulu. Rak-rak buku terkunci rapat dan gumpalan debu yang menggunung menandakan jika rak itu jarang tersentuh. Meja-meja kecil pun tercampak di sudut, banyak sarang laba-laba di bawahnya. Juga terdapat majalah dinding dengan warna-warnanya yang telah memudar. Aku melihatnya sejenak. Ya Allah!  Majalah dinding ini dipasang sejak tujuh bulan yang lalu dan sampai sekarang belum diganti!

Aku sempat membayangkan saat aku bersama teman remaja masjid dulu begitu antusias membuat mading dan berebut menempelkannya, sampai kami rela memasang puisi terbaik kami di pagi buta agar mendapat tempat yang terbaik. Nglembur di malam Ahad untuk membuat mading, bahkan pernah para ikhwan tak tidur semalaman untuk membuat mading spektakuler di bulan Ramadhan. Sampai-sampai takmir kaget bukan kepalang. Mading berukuran dua kali dua meter terpajang rapi di dinding dekat tempat wudhu. Namun kini aku hanya dapat mengelus dada. Madingnya saja tak diganti sejak tujuh bulan yang lalu!

“Kun. Assalamu’alaikum….” tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Tepukkannya cukup membuat aku terperanjat.

“Ya Allah…Pras. Wa’alaikumsalam,” kataku dengan wajah yang berbinar. Aku lantas menyalaminya dan lantas dada kami beradu tegap. Pras adalah teman SMA ku dulu dan menjadi teman seperjuanganku di masjid ini. Kami dulu sangat akrab karena sama-sama mengidolakan Rasulullah. Hampir tiap ba’da maghrib kami selalu berdiskusi tentang shiroh nabawiyah.

“Liburan po, Kun?”

“Ah, ndak. Aku cuma tiga hari di sini. Ditelpon sama Simbok, disuruh pulang.”

“Oh! Kangen paling! Hehe…. Oh ya, antum sekarang kerja di mana?”

“Baru nyambi, Pras. Jadi pegawai kecil-kecilan,” balasku dengan sedikit tersenyum.

“Alaah, kamu ini suka merendah. Mana mungkin lulusan S1 jadi pegawai kecil-kecilan.” Mendengar kalimat itu, hatiku langsung meredup. Aku agak sungkan untuk menjawabnya. Kuharap ia tak melihat air mukaku berubah.

“Belum, Pras. Masih banyak yang harus aku kerjakan dulu. Aku belum lulus.”

Kulihat kini air muka Pras yang berubah. Aku tahu ia ingin bertanya lagi, tapi panggilan iqamat sudah mengalun jantan menarik kaki kami yang terdiam beradu.

Aku berjalan diiringi wajah yang mulai tersaput mendung.

***

Aku mencium tangan gagah Bapak saat ia terduduk tegap di kursi depan teras. Badannya masih cukup perkasa untuk seorang laki-laki yang berusia hampir enampuluh. Namun tekanan hidup yang menderanya membuat matanya semakin sayu, juga rambut tipisnya yang semakin meranggas saja.

Aku kemudian terduduk di dekatnya bersamaan dengan sepiring telo goreng yang yang datang bersama langkah Simbok yang gemulai.

“Ayo monggo dimakan telo-nya!” katanya sembari duduk di depan kami. Tanpa pikir panjang aku langsung menyambar gunungan telo itu. Kebiasaan kecilku belum hilang juga, menggigit telo goreng yang masih mengepulkan asap. Aku sedikit memajukan bibirku saat sensasi panas menggigit sel lembut di dalam mulutku. Aku kecanthang.[7]

“Sabar, Le. Di dalam masih banyak.”

Aku tersenyum simpul. Tentu hal semacam ini tak bisa kulakukan di depan teman-teman kajianku.

“Oh ya, Mbok. Tadi aku ketemu Joko sama Pras.”

“Wah, kalau Pras sekarang sudah mulyo. Tapi Simbok agak kasihan kalau nglihat Joko sekarang.”

“Maksud Simbok?”

“Yo itulah, Le. Rumahnya digrebek sama polisi. Simbok sih sudah curiga.”

“Simbok, jangan begitulah. Kasihan kan? Wong juga ndak terbukti,” sergah Bapak tiba-tiba.  Bapak lantas berkata lagi, “Bapak juga nggak habis pikir. Cuma gara-gara dia penampilannya berubah aja, orang-orang sini langsung nuduh terlibat kasus teroris.”

Aku bertasbih syahdu. Aku tak menyangka, begitu mudah orang menuduh tanpa bukti yang jelas. Hanya gara-gara ia sering ngaji, begitu mudah orang termakan berita miring. Tapi aku yakin, Joko akan sanggup bertahan dengan pendiriannya. Ah, Joko yang dulu begitu ndugal[8] di SMA ternyata sudah menjemput syurganya. Aku terus bertasbih. Masa depan memang sulit ditebak.

“Lalu apa dia juga dibawa polisi?”

“Iya. Pagi itu tiba-tiba banyak polisi yang datang ke rumahnya. Joko sempat melawan, tapi apa daya,” terang Simbok.

“Tapi seminggu kemudian dia dibebebaskan karena ndak terbukti. Tapi yo warga sudah mencap dia jelek. Itu susahnya.”

Yo sejak itu dia jadi bahan grenengan[9] tetangga. Kasihan juga.”

Yo itu Le, makanya kamu itu yo harus bisa jaga diri. Apalagi Bogor itu kan kota besar. Salah-salah bisa gawe memolo[10],” Simbok berkata dengan nada yang meninggi.

Mataku melirik guguran daun kresen yang menguning di kejauhan. Hatiku berbisik, apakah Simbok menyuruhku pulang hanya gara-gara ini? Aku mencoba menerka-nerka. Tapi kalaupun hanya masalah ini, tentu sebetulnya Bapak dan Simbok tak perlu khawatir. Insya Allah lingkunganku di Bogor cukup bisa terjaga. Tapi aku tak ingin berprasangka lebih jauh lagi. Aku lantas memberanikan diri mengeluarkan kalimat itu.

“Pak, sebetulnya ada permasalah apa tho sampai nelpon segala.”

Ada beberapa saat waktu yang sempat terbuang karena mereka terdiam sejenak. Bapak kemudian angkat bicara seraya mengambil telo goreng seukuran bola bekel yang ada di hadapan kami.

“Kun, sebetulnya Bapak ini cuma kepingin tahu kegiatan kamu di Bogor itu apa saja tho?”

“Ya…saya ini nyambi kerja, Pak.”

“Mbok uwis[11] tho Kun. Kamu itu gak usah nyambi. Fokus dulu sama kuliahmu. Simbok ini selak[12] pengen ngelihat kamu jadi sarjana.”

DEG! Rasa-rasanya aku agak paham arah pembicaraan ini. Dan juga alasan kenapa Simbok sampai rela meneleponku dua hari yang lalu. Aku hanya terdiam. Terakhir kali aku diinterogasi seperti ini saat aku SMP, saat aku pulang jam duabelas malam karena ikut kajian tanpa sepengetahuan Simbok.

“Iya, mbok lihat itu Pras. Dia dua tahun sudah jadi guru SMP. Dia itu kan sepantaran tho sama kamu…. Daftarnya saja bareng. Kun, ndak usah nyambi-nyambi. Bapakmu itu masih sanggup kok ngirimin uang buat biaya hidup kamu di Bogor,” ucap Simbok.

“Nggih, Mbok.” Aku menunduk dan tercenung.

“Iyo, Le. Mumpung simbokmu ini masih hidup, pengen lihat anaknya wisuda, yo siapa tahu….”

“Ah Simbok ini ada-ada saja. Jangan ngomong kayak gitu tho,” ucapku secara spontan. Terus terang perkataan Simbok tadi membuat aku merinding. Membayangkan saja tidak berani. Angin semilir membelai jiwaku yang seketika menggelandang. Aku terus tertunduk, tak berani menatap apapun.

“Iyo, Kun. Pokoke Simbok ini ndak suka nglihat kamu jadi takmir di Bogor.”

“Simbok, sudah tho. Jadi takmir itu kan bagus,” sergah Bapak.

“Ah, Bapak ini ndak pernah ngerti Simbok!”

Ah, rasanya aku ingin merebahkan kepalaku sejenak. Aku tertunduk tak berkutik.

***

Menjelang maghrib, aku menyempatkan jalan-jalan sore bersama Hanafi. Tak kuduga Hanafi sudah berubah. Badannya sudah hampir mendekati tinggi badanku, kulitnya menggelap, dan gaya bicaranya yang terlihat lebih dewasa.

“Mas Kun tadi dimarahi Simbok, ya?” ucapnya mengawali pembicaraan. Aku dan Hanafi berjalan di antara kios-kios kelontong yang lumayan ramai. Aku lantas memperlambat langkahku dan memandang manik matanya.

“Apa Bapak dan Simbok marah sama mas ya? Aku jadi ndak enak, Dik.”

“Lha Mas itu juga kok. Kenapa lulusnya lama. Sudah enam tahun lebih tho.”

“Lho, bukan karena mas ini jadi takmir?”

“Nah itu masalahnya, Mas! Simbok itu berpikir kalau Mas lulusnya lama karena Mas jadi takmir.”

“Mas itu sudah penelitian dua tahun lalu. Tapi belum sempet tak selesaikan.”

“Ah, Mas Kun ini ndak seperti yang aku kenal dulu. Mas itu kan dulu rajin banget. Tapi kok sekarang nglokromlempem. Tahu ndak Mas! Simbok itu mikirin Mas terus lho. Kalau Bapak mungkin sudah paham.”

“Ya gimana ya, Fi. Mas ini kegiatannya masih banyak. Nyambi kerja, ngaji sana-sini.”

“Mas, itu kan bisa diatur. Aku tahu Mas itu aktivis dakwah, tapi yo…,” Hanafi tak meneruskan kalimatnya.

“Tapi apa, Dik?”

“Tapi yo jangan orang lain terus yang diurusin. Kalau orang lain terus, kapan Mas ngurusin diri Mas sendiri.”

“Tapi ini untuk Allah. Untuk melanjutkan dakwah Rasulullah. Kalau bukan kita siapa lagi? Ini amanah Rasul untuk umat Islam, Dik!”

“Dakwah itu ndak begitu caranya Mas! Rasul pun ndak pernah melalaikan kewajiban kepada keluarga. Apa Mas ndak tahu kisah beliau yang bermain bersama Hasan Husain walau tugas dakwah begitu besar? Atau Mas lupa bahwa Beliau suka membukakan pintu rumah untuk istrinya? Di mata orang awam, hal itu ndak pantas dilakukan oleh seorang Rasul. Tapi Rasul tetap melakukannya karena Rasul menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya.”

            Aku terdiam. Aliran darahku berdesir membentuk delta membiru.

            “Aku tahu Mas itu mengidolakan Rasul. Tapi tentu Rasul juga akan marah kalau nglihat Mas sekarang seperti ini, apalagi sampai buat Simbok sedih.”

“Mas paham. Tapi Mas ndak tahu harus gimana. Apa Mas harus keluar dari tempat kerja, atau melepaskan diri sementara dari amanah dakwah?”

“Mas, Rasul pernah berujar bahwa kita ini disuruh beramal sesuai dengan kemampuan kita.[13] Bahkan di Qur’an pun dijelasin kalau kita jangan terlalu cenderung kepada yang kita suka sehingga yang lain terbengkalai.[14]

Langkahku lantas terhenti. Pikiranku berkecamuk tentang telepon singkat Simbok sekitar seminggu yang lalu saat aku sedang mengikuti kajian. Sedang asyiknya berbicara, tiba-tiba ponselku bergetar.  Ah, nomor wartel Magelang, apa itu Simbok ya, batinku. Aku lantas izin sejenak menepi. Benar saja, suara lembut Simbok menghiasi telingaku. Kami sekedar berbasa-basi sampai akhirnya ia menanyakan hal yang selalu ia katakan padaku.

“Gimana kabarmu, Le?”

“Alhamdulillah apik[15].

“Oh yo syukur. Sedang sibuk apa tho?”

“Biasa, Mbok. Ada kegiatan di sini.”

“Gini, Le. Kalau tidak sibuk sekali, mbok dalam waktu dekat ini pulang sebentar ke rumah,” ucap Simbok. Perkataan Simbok tersebut sontak meliarkan pikiranku. Ada apakah gerangan?

“Di rumah ndak kenapa-napa tho, Mbok? Ya Allah….”

Ora popo kok, Le. Cuma kan bentar lagi puasa, Bapak itu pengin semuanya ngumpul. Sudah dua tahun tho ndak pulang….”

“Nggih, Mbok. Mungkin seminggu lagi ya, Mbok.”

Yo kalau bisa secepatnya. Kamu ndak sayang sama Simbokmu?” Aku sempat mendengar suara batuk Simbok yang memang sudah sering aku dengar. Tapi kali ini lebih keras. Jantungku bergenderang. 

“Nggih.” Aku tak bisa menjawab pertanyaan Simbok barusan. Kalimat itu membekukan bibirku.

“Mas…Mas, ayo pulang, Mas. Sudah adzan tuh!” teriakan Hanafi membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan mengusap mukaku yang mulai mendanau. Ah, Simbok.

***

“Iya, Le. Simbok ini pengin ke Bogor lihat kamu wisuda,” ucap Simbok selepas isya. Simbok berkata sambil memarut telo. Kali ini tidak digoreng, tapi akan dibuat lemet[16].

“Iya, Mbok. Kukun paham. Kalau Kukun udah sampai Bogor, Kukun akan segera ngurus skripsi.”

“Simbok ini harapannya ndak muluk-muluk. Cepet lulus, cari kerja….syukur-syukur jadi PNS. Wah jan, Simbok seneng banget. Siapa lagi tho yang bisa ngangkat derajat keluarga ini selain dua putra Simbok sing bagus dhewe ini.”

“Apa aku harus keluar jadi takmir?”

“Bapak ndak minta kamu berhenti berdakwah. Islam harus tetap diperjuangkan sampai kapanpun. Itu perintah Rasul, Le. Tapi jangan sampai memaksakan dirilah. Kalau waktu kamu habis untuk kerja, mending keluar saja. Kamu fokus kuliah sama dakwah,” ucap Bapak menimpali. Mendengar perkataan Bapak. Simbok lantas beranjak dari kursinya dan menuju pawon dengan muka masam. Dari arah pawon, kudengar suara batuk Simbok yang semakin menjadi-jadi.

“Mas, ibadah itu kan bukan hanya ngaji. Belajar juga ibadah. Mending Mas ngomong sama takmir kalau mau fokus sama skripsi dulu. Pasti mereka paham,” kata Hanafi tiba-tiba. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, “Kan kalau kita udah selesai mengerjakan sesuatu, kita harus beranjak mengerjakan sesuatu yang lain, Mas.”

Aku tercenung sesaat. Pikiranku berkecamuk.  Aku harus menata hidupku lagi. Akan kubuat Bapak, Simbok, dan juga Hanafi pergi secepatnya ke Bogor untuk melihat wisudaku.

“Iya, Pak. Saya akan segera lulus dan….”

BRAAAKK….GROMBYAANGG!!

Kalimatku terhenti karena mendengar benda terjatuh. Membuat kening ini mengernyit cepat. Secepat kilat Hanafi beranjak dan berlari menuju dapur. Langkahnya segera diikuti olehku dan Bapak.

“Innalillahi…Ya Allaaah, Simbok!!” teriak Hanafi. Mataku pun terbelalak. Simbok terjatuh terjerembab membentur lantai. Dandang yang berisi parutan telo tertumpah bercecer tak karuan. Hanafi segera menyingkirkan keset sabut kelapa yang membuat Simbok terpeleset. Hanafi beristigfar panjang.

“Ya Allaah.” Aku segera menegakkan tubuh Simbok. Kudengar rintihan yang tak begitu jelas. Aku memapah Simbok yang mulai tak sadarkan diri. Ada darah segar mengalir di rongga hidungnya.

***

Aku terduduk di samping tempat tidur menatap wajah Simbok yang baru saja tertidur. Di luar sana masih kudengar dokter desa yang bercakap-cakap dengan Bapak. Perlahan kugenggam tangannya. Aku sedikit menunduk agar tangan Simbok dapat mengenai bidang dadaku. Lagi-lagi aku terdiam. Mungkin aku telah salah jalan, mementingkan amanah yang diberikan orang lain dan malah melupakan kewajibanku sendiri. Ada benarnya juga apa kata Hanafi tadi sore, aku tahu Mas itu mengidolakan Rasul. Tapi tentu Rasul juga akan marah kalau nglihat Mas sekarang seperti ini, apalagi sampai buat Simbok sedih. Aku kembali menatap wajahnya lekat. Simbok, maafkan aku. Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai Rasulullah.

Ah, hatiku bergejolak membentur karang-karang kesyahduan. Aku terus saja memandang lekat wajah Simbok, menahan air yang mulai menganak di samping pelipis.

Suara-suara bedug bertaluan menyambut Ramadhan yang mulai bertandang senja ini.

 

endnotes




[1] Dingklik: bangku kecil (bahasa jawa)

[2] Luweng: kompor tradisional dengan kayu bakar (bahasa jawa)

[3] Sawang: sarang laba-laba di sudut ruangan.

[4] Ono opo tho: ada apa?

[5] Gedhek: Dinding bambu

[6] Telo: Ketela

[7] Kecanthang: sensasi terbakar saat makan makanan/minuman yang terlalu panas.

[8] Ndugal: nakal

[9] Grenengan: Pembicaraan, bahan gosip.

[10] Gawe memolo: mendatangkan bencana (bahasa jawa)

[11] Uwis: Sudah

[12] Selak: Keburu

[13] Dituturkan dari ‘A’isyah r.a. bahwasanya (suatu saat) Nabi Saw. Masuk ke rumah ‘A’isyah dan kebetulan di situ ada seorang perempuan. Beliau pun bertanya.”Siapakah ini?” Jawan ‘A’isyah,”Ini adalah Fulanah yang terkenal karena shalatnya.” Nabi Saw. pun bersabda,”Ah, beramallah kalian sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan jemu menerima amal kalian, sehingga kalian sendirilah yang akan jemu… ” (Bukhari dan Muslim)

[14] QS. An-Nisa [4]: 129.

[15] Apik: Bagus

[16] Lemet: makanan dari ketela yang diparut, dicampur gula jawa sisir lantas dibungkus dengan daun pisang dan dikukus

Senyum Nenek

Pemenang Ketiga Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLPAC 2011

 

Senyum Nenek

Aku  ingin ia mengulang masa dengan cahaya subuh yang lebih keemasan

lantas, aku akan meminta-Mu

menjadikannya sujud simpuh biasanya.

Ari Mami

***

Serba salah. Aku ingin mengambil air wudhu sebelum adzan maghrib membasuh kering kerongkongan. Sepuluh menit lagi. Jika aku ke tempat wudhu sekarang, aku harus melewati puluhan sorotan mata laki-laki tua-muda di serambi Masjid bagian selatan. Walaupun hanya sejauh lima langkah, aku sangat malu lewat di depan mereka.

Kini aku berdiri di balik pintu pembatas tempat jaamaah putra dan putri. Ah, andai saja saat ini statusnya tidak sedang i’tikaf, mungkin aku akan memilih berwudhu di tempat warga setempat. Kakiku masih enggan melangkah, tapi azzam-ku untuk shalat tepat waktu tak dapat kupadamkan. Sebenarnya ada jalan lain ke tempat wudhu putri selain melewati serambi itu. Namun semua sudut Masjid telah dipenuhi oleh jamaah segala usia. Tak ada celah. Hampir semua warga tumpah ruah memenuhi Masjid Jogokariyan, menunggu datangnya senja maghrib yang cerah seperti biasanya, ceria dalam ritual hangat buka puasa bersama.

Daerah Jogokariyan memang luar biasa. Julukan ‘Kampoeng Ramadhan’ sangat tepat untuknya. Semua warga ikut serta dalam meramaikan hajat besar Ramadhan—tidak hanya takmir dan remaja Masjid. Hampir semua warga berkontribusi dalam program Ramadhan yang diagendakan takmir Masjid—minimal, membantu masak nasi atau mencuci piring untuk buka puasa. Syiar Islam di sini bisa dikatakan berhasil. Sholat jamaah lima waktu hampir tak pernah terlihat ruang sisa, penuh dengan jamaah. Apalagi masa Ramadhan seperti saat ini.

Setiap sore, hampir semua warga datang ke Masjid sebelum adzan berkumandang. Mereka ngabuburit dengan cara yang lebih berkualitas—juga lebih hemat—yaitu dengan mengikuti kajian sore dan buka puasa gratis. Sejak i’tikaf tanggal 19 Ramadhan, menu buka puasa yang kutemui adalah air gula dan nasi lauk daging kambing beserta kerupuk (menu yang luar biasa bagi seorang mahasiswa—seperti saya).

Sore ini sedikit berbeda. Kajian sore digantikan dengan hadirnya Kak Bimo yang mengisi kegiatan TPQ anak-anak. Semua pandangan tertuju di panggung depan Masjid, tempat aksi Kak Bimo dengan dongeng khasnya. Inilah yang membuatku tidak nyaman. Kemarin, ketika kajian seperti biasa, melewati serambi selatan bukanlah masalah. Karena yang kutemui adalah punggung jamaah putra yang tegak ke arah kiblat.

Bismillaah, kuputuskan untuk mengambil wudhu sekarang. Kusiapkan wajah datarku untuk menutupi rasa malu melewati puluhan sorotan mata jamaah putra.

Baru saja akan melangkah ke serambi selatan, seorang nenek-nenek berusia tujuh puluh tahunan menarik-narik gamisku. Beliau duduk di sudut ruangan samping pintu. Tepat di sisi kaki kananku. Wajahnya segar dibalut jilbab instan biru langit.

“Sampun,” kujawab seadanya.

Sebenarnya aku kurang paham apa maksud beliau. Kuterka beliau menanyakan apakah aku sudah mendapatkan nasi untuk berbuka atau belum.

Beliau menarik-narik lagi gamisku ketika aku hendak beranjak ke tempat wudhu. Kutatap wajahnya. Ada keinginan yang memancar dari sorot matanya. Keinginan yang belum dapat kusambut. Ada sirat rona muka yang berbeda. Senyumnya terbit. Senyum yang menyembunyikan rasa malu atau entah apa.

Kusejajarkan wajahku dengannya, mendekatkan telingaku ke arah mulutnya. Ya Rabb. Ternyata beliau ingin aku tetap berdiri sejenak, menjadi tameng sementara. Jilbab biru yang ia kenakan ternyata terbalik. Lantas aku meminta temanku untuk membantuku; kami berdua menjadi dinding hijab ketika Nenek membalik jilbabnya. Beliau tidak ingin aurotnya dilihat oleh jamaah non mahram. Rasa geli yang sempat mengintip, tergantikan haru luar biasa yang merentas hati.

***

Nenek sakit. Pulanglah. Sebentar lagi lebaran, kan?

Air mataku runtuh. Entah karena sedih mendengar nenek sakit atau karena harus meninggalkan Jogokariyan lebih awal. Atau mungkin keduanya. Dadaku sesak. Citaku yang terlalu kuat untuk menghabiskan Ramadhan 1432 H dengan  i’tikaf  membuatku benar-benar buram.  Aku harus pulang kampung sebelum i’tikaf usai.

Jauh-jauh hari sudah kupersiapkan untuk Ramadhan indahku. Ramadhan yang kurasa menjadi Ramadhan terakhirku di Yogyakarta. Aku ingin i’tikaf sepuluh hari penuh; merenungi kealpaan diri. Namun salah satu sudut hatiku ditarik-tarik rasa rindu pada Nenek. Akhirnya, kuputuskan pulang ke rumah dua jam setelah Bapak telepon—tepat setelah shalat maghrib di Ramadhan ke-25.

***

Senyum tulus Nenek yang selalu menemani sikap-sikap bandelku semasa kecil. Aku hidup dengannya dalam cawan cinta yang meluber. Dia turut serta membentuk sifat baik yang melekat dalam diriku. Walaupun jatuhnya aku menjadi manja karena kasih sayangnya. Hingga akhirnya aku dan orang tua pindah ke kota saat aku beranjak puncak umur 12 tahun, berpisah dengan Nenek.

Ketika aku mengunjungi Nenek, ia akan langsung mendekat dan mencium kedua pipiku, lalu menanyakan kabar kuliahku dengan bahasa cintanya. Seperti biasa. Tak hentinya ia tersenyum. Lantas ia akan melontarkan satu pertanyaan abadi; wis mangan durung[1]. Hal itu adalah momen yang kucinta; yang hanya kutemui beberapa kali dalam setahun.

Ternyata semua itu benar-benar menjadi masa lalu.

Kini aku tak mendapat kuncup senyum yang merekah dari Nenek yang duduk di ranjang pasien. Pandangannya kosong. Gumpalan darah di kepala bagian kiri—kata dokter—membuat memorinya berkurang. Beliau sering kali mengigau tentang keseharian di masa lalu. Ceracaunya adalah ceracau masa lalu yang tidak memberikan luang sadar untuk masa kini. Bahkan, beliau sering mengamuk. Ia menjadi seperti bayi. 

Ada titik-titik gatal yang merayap di sudut mata, isyarat air mata yang ‘kan segera tumpah. Aku tidak boleh terlihat sedih di depan Nenek. Sungguh, air mata dan sesak yang kutahan membuat kepalaku pusing. Seakan ada ribuan jarum yang menusuk kepala bagian tertentu. Tapi aku harus tersenyum. Perlahan kubuka mushaf  untuk tilawah. Aku ingin Nenek mendengarkan kalam-Nya. Aku ingin ia tenang dan kembali seperti biasa, merekahkan senyum yang sama.

Yasinane apik[2], katanya (ia mengira aku membaca surat Yasin). Ya Rabb. Tiba-tiba aku teringat Nenek berjilbab biru langit yang begitu teguh memegang tali agama. Umur mereka sebaya. Sedangkan  nenekku sama sekali tidak paham agama. Tidak shalat lima waktu. Aih, Mungkinkah ia tidak bisa shalat? Ataukah ia tidak tahu bahwa shalat adalah kewajiban?

Jika saja Nenek hidup di Jogokariyan, aku yakin, ia akan seperti Nenek berjilbab biru laut. Betapa aku jarang bersua dengan Nenek karena jarak rumah kami yang cukup jauh. Jika saja intensitas pertemuan kami lebih sering, aku ingin mengajaknya shalat bersama. Aku yakin, ia pasti mau. Karena Nenek adalah orang baik yang selalu menjaga hubungan baik dengan tetangga, menyambung silaturahim, dan suka memberi. Ramadhan kali ini menyadarkanku, betapa besar kuasa-Nya. Ternyata tak semua orang yang bersapa dengan Ramadhan diberi kesempatan untuk menyadari keagungan Ramadhan, mencecap manisnya Ramadhan.

Aku sangat berharap, Allah memberi kesempatan sekali lagi pada Nenek untuk mengenal-Nya. Agar wajahnya secerah Nenek berjilbab biru langit.

 

 

 

Kisahku di Ramadhan 1432 H

(mohon doa dari kawan-kawan untuk Nenekku)


  

[1] sudah makan belum?

 [2] Membaca surat Yasin-nya bagus

 

 

Insiyah

Pemenang Kedua Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

“Insiyah”

(Sebuah Kisah Sejati)

Afifah Afra

 

Ia selalu menjadi jamaah terakhir yang meninggalkan masjid samping rumahku. Tunduk, dalam, kadang terisak. Entah apa yang terbisikkan dari bibir yang keriput itu. Yang jelas, tentulah sebuah kalimat-kalimat mesra, yang ia senandungkan kepada Dzat yang menyelusupkan napas kehidupan dengan begitu lembut ke dalam tubuh ringkihnya.

Insiyah, nama perempuan itu. Orang-orang di kampungku memanggilnya ‘Mbah Insiyah’. Terus terang, karena aku dan keluarga termasuk orang baru di kampung ini, aku tak cukup dekat mengenalnya. Aku bahkan tak tahu di mana rumahnya. Yang kutahu, di saat-saat jam shalat, ia selalu datang ke masjid paling awal, dan pulang paling akhir.

Kulitnya yang berkeriut, anak-anak rambutnya yang memutih—yang terlihat di sela-sela kerudungnya, sepasang matanya yang cekung, telah memperlihatkan ketuaan. Sedangkan pakaiannya yang sangat sederhana, mukenanya yang lusuh, serta sajadahnya yang robek di sana-sini, memperlihatkan sebuah kemiskinan—yang tampaknya tak terlalu ia rasakan. Yah, mungkin karena mereguk madu kenikmatan saat berkhalwat dengan Rabb-nya, sesuatu yang menjadi kebiasaan di jam-jam shalat, telah membuat ia lupa pada kenikmatan duniawi.

Rasa cemburu sering terbersit, dan menjadikan sebuah niat buruk berkelintar di hatiku. Ayo, saingi Mbah Insiyah! Masak aktivis seperti aku, kalah lama berdzikir pasca shalat.

Pernah kelintar tak elok itu terejawantah dalam aksi nyata. Aku benar-benar terbakar iri, dan lantas mencoba menyainginya. Usai salam, aku baca semua wirid yang kuhapal, berdoa begitu lama, sampai  aku merasa tak ada lagi yang bisa kubaca. Suasana masjid sepi, dan aku rasa, persaingan itu telah kumenangkan. Aku pun menoleh ke sudut masjid, tempat Mbah Insiyah biasanya duduk berzikir. Kupikir dia telah pulang. Akan tetapi, sebuah tamparan keras di petala imajiku terasa menghantam pipiku. Telak.

Mbah Insiyah masih tenggelam dalam wirid. Berenang dalam lautan kenikmatan bermunajat di hadapan-Nya.

Aku takluk. Dan tak akan lagi mencoba bersaing dengannya.

Tak akan bisa. Kecuali jika aku berhasil meluruskan kembali niat yang bengkok itu.

* * *

Ramadhan tahun lalu, Mbah Insiyah tetap rajin—dan bahkan semakin rajin datang ke masjid. Usai tarawih, ia tak pulang, namun duduk di sudut masjid. Ia menatapku dan para ibu lainnya yang melingkari beberapa buah meja TPA yang ditata sedemikian rupa. Kami sedang melakukan acara tadarus, yang secara rutin tergelar di setiap malam ramadhan. Tatapan perempuan tua itu terlihat memancarkan sebuah penyesalan. Pandangan yang berkabut.

“Tidak ikut tadarus, Mbah?” tanyaku, dalam bahasa Jawa halus.

Mbah Insiyah menggeleng. “Saya tidak bisa membaca Al-Qur’an, Bu …” ujarnya, dengan sesal yang seakan bertalu-talu memukuli jiwanya.

Sebuah desiran halus segera kuusir cepat-cepat dari benakku. Jangan merasa menang dari Mbah Insiyah hanya karena beliau tak bisa membaca Al-Qur’an! Justru semestinya rasa malu semakin kuat merajam hatiku. Aku yang konon seorang da’iyah, masih kalah khusyuk dibandingkan seorang perempuan ringkih yang bahkan tak bisa membaca Al-Qur’an.

Tak mampu mengeja huruf-huruf Arab, tak lantas membuat Mbah Insiyah lekang dari area penuh lantunan firman Allah itu. Ia terlihat sangat berbahagia di dalam majelis tadarus Al-Qur’an, meskipun hanya dengan menyimak bacaan-bacaan kami. Sesekali, ia menyungging senyum. Sesekali merenung, dan menghela napas panjang.

Demikianlah, langit malam ramadhan menjadi saksi kehadiran perempuan tua, yang selalu datang paling awal, shalat dengan sangat khusyuk, berwirid, dan pulang di saat masjid sudah lengang, tanpa sesosok insan pun tertinggal.

Namun, di malam-malam pertengah Ramadhan, sosok Mbah Insiyah mendadak gaib dari masjid. Kucoba telusuri sosok-sosok putih berbalut mukena, mencoba menemukan wajah keriput yang selalu bersih dan bersinar lembut itu.

Tak ada.

Usai shalat, begitu salam, aku kembali mencarinya di antara barisan jamaah, mungkin beliau terlambat, dan ternyata sosoknya benar-benar tak kutemui.

Ada rasa kehilangan, yang semakin dalam, begitu di malam-malam selanjutnya pun, sosok itu kembali tak kutemui di masjid. Ada apa dengan Mbah Insiyah? Tak mungkin dengan sedemikian mudah ia meninggalkan sebuah kenikmatan ukhrawi yang sekian tahun ia reguk. Seorang abidah sejati, tak mungkin akan mampu meninggalkan mihrab yang telah begitu lekat dengan sanubarinya.

Mengapa, mengapa, mengapa? Pertanyaan itu terjawab ketika di suatu hari, terdengar ketukan di pintu rumahku. Seorang perempuan muda, berjilbab lusuh berdiri di depan pintu dengan wajah panik.

“Pak dokter ada?” tanyanya.

“Ya, ada, Mbak. Ada yang bisa dibantu?”

“Ibu saya sakit. Tubuhnya lemas sekali. Pak dokter bisa memeriksa Ibu di rumah saya?”

“Sebentar ya, Mbak!” aku masuk ke dalam, menggamit lengan suamiku. “Mas, ada pasien. Tetapi kondisi pasien lemah, jadi tidak bisa datang kesini. Mas bisa kan, datang ke rumah beliau?”

“Ya, Mi!” Jawab suamiku, yang memang lebih terbiasa memanggilku dengan sebutan Ummi. Maksudnya, Umminya anak-anak.

Suamiku beranjak keluar. Sejenak kudengar ia bercakap-cakap sejenak dengan perempuan itu. Suara itu semakin lama semakin menghilang, yang berarti beliau sudah semakin jauh meninggalkan rumah, menuju ke rumah pasien.

Beberapa saat kemudian, suami telah kembali. Ia memanggilku. “Dik, mau menjenguk Mbah Insiyah, tidak?”

Ada yang berdesir di dadaku mendengar nama itu disebut.

“Beliau sakit?” tanyaku.

“Iya, betul. Yang sakit itu tadi Mbah Insiyah. Dan yang datang kemari itu anak beliau.”

Mbah Insiyah sakit? Pantas, aku tak melihat sosoknya hadir di masjid.

“Sakit apa?”

“Gula. Dan ia juga punya luka. Penderita sakit gula, jika terkena luka, biasanya sulit sembuhnya.”

Ada sesuatu yang terasa dengan cepat menjalar di pembuluh darahku, dan naik hingga ubun-ubun. “Ayo, kita jenguk, Mas!” ajakku, semangat.

* * *

Seperti tak percaya ketika sepasang mataku berbenturan pada rumah tempat Mbah Insiyah bernaung. Sebuah gubuk dengan ukuran sekitar tiga kali lima meter. Berdinding anyaman bambu yang jarang-jarang, sehingga menyisakan sekian banyak rongga. Lantai hanya tanah yang dikeraskan. Sementara, dinding dan atap tak menyatu, sehingga jika hujan lebat bercampur angin mengguyur bumi—yang saat itu sangat sering terjadi—bisa dipastikan tempias deras memasuki ruangan. Belum udara malam nan menggigilkan sekujur tubuh. Ya, Allah … dalam kondisi rumah seperti itu, Mbah Insiyah yang renta terbaring sakit?

Ruangan terbagi menjadi tiga. Di ruang paling depan, berukuran sekitar satu kali dua meter, Mbah Insiyah tergeletak di atas dipan reot yang hanya dilapisi tikar rombeng. Tak ada selimut, kecuali selembar kain tipis nan kumal. Bau pesing khas ompol balita terasa begitu kuat. Mungkin anak perempuan Mbah Insiyah belum sempat mencuci kain itu, atau mungkin hanya itu satu-satunya kain yang mereka miliki, yang bisa mengirimkan sedikit kehangatan di tubuh renta itu.

Mataku berkaca-kaca. Terlebih, Mbah Insiyah tak sendiri tinggal disana. Ia numpang di rumah anak perempuannya, yang hidup dengan suami serta empat orang anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Rumah sesempit itu, ditempati oleh tujuh orang! Betapa sumpeknya. Terbayang rumahku, yang meskipun tidak mewah, cukup lapang dan melegakan. Bukankah salah satu kenikmatan seorang hamba Allah adalah, ketika ia dianugerahi sebuah tempat tinggal nan lapang?

Aku begitu terbata-bata, memaki diri sendiri yang selama ini seperti acuh dengan keadaan itu. Bagaimana mungkin selama ini aku bisa tidur enak, makan berkecukupan—meski tentu tak bermewah-mewahan, sementara tak sampai berjarak limaratus meter dari rumahku, Mbah Insiyah dan keluarganya hidup jauh di bawah garis kemiskinan?

Tergesa aku pulang, mencari beberapa lembar selimut tebal, bantal, serta sembako. Aku antar barang-barang sekedarnya itu dengan rasa bersalah yang tak juga mampu pupus. Apalah arti sedikit bantuan ini untuk penderitaan keluarga beliau yang begitu akut?

Karena sakitnya sudah terlalu parah, akhirnya, Mbah Insiyah dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah, tetangga di sekitar kami memiliki perhatian yang cukup bagus. Ramai-ramai mereka menguruskan jamkesmas, sehingga biaya perawatan Mbah Insiyah bisa seratus persen digratiskan. Walhasil, nyaris sepanjang Ramadhan tahun itu, aku kehilangan sosok beliau, yang selalu menyejukkan masjid dengan wirid-wirid panjangnya. Dengan tatapan sejuknya saat ia mencoba menyimak bacaan tadarus kami.

* * *

Menjelang lebaran, Mbah Insiyah keluar dari rumah sakit. Aku mengucapkan puji syukur. Semoga beliau benar-benar sembuh—meski ini agak sulit, mengingat penyakit beliau ada gula—kembali sehat dan shalat di masjid. Aku sungguh merindukkan sosoknya saat khusyuk bertaqarub ilallah. Beliau menginspirasikan sebuah ketaatan seorang abidah yang mulia. Memotivasiku untuk segera menanggalkan segala sesuatu yang bersifat duniawi, dan fokus bergelut pada nilai-nilai transedental. Yakinlah, untuk perempuan semuda aku, ini sesuatu yang sulit.

Ia memang hanya seorang perempuan tua miskin, yang bahkan tak bisa membaca Al-Qur’an. Tetapi bukankah keikhlasan itu bak minyak wangi? Meskipun ditutup-tutupi, ia akan menguar, melewati segala celah sempit, dan menjadikan sekitarnya dipenuhi keharuman sejati.

Sayang, harapan kami ternyata tinggal harapan. Kami semua mencoba menyayangi Mbah Insiyah, namun Allah yang memiliki segala bentuk kasih sayang, lebih menyayangi beliau.

Sore itu, anak perempuan Mbah Insiyah kembali datang ke rumah. Terbata-bata, ia melaporkan kepada suami saya, bahwa ibunya sudah dua hari ini tak mau menyantap makanan apapun. Sang ibu terbaring dengan tubuh lemas, mata terpejam, dan bahkan tak mampu mengangkat sepasang tangannya.

Aku dan suami mengikuti langkah tergesa-gesa anak perempuan Mbah Insiyah. Ya, di atas dipan reot itu, kulihat sosok itu tergeletak dengan wajah pucat lesi. Tubuhnya terasa dingin. Namun, paras itu, Ya Allah… begitu bersih.

“Kadar gulanya sangat tinggi,” ujar suamiku. “Beliau harus dirawat di rumah sakit!”

Mendengar ucapan suamiku, mendadak Mbah Insiyah membuka mata, lalu menggeleng pelan. Ia tak mau dibawa ke rumah sakit.

“Kalau begitu, saya beri obat saja, ya? Tapi obatnya diminum, ya Mbah?” ujar suami.

Mbah Insiyah tidak menjawab. Hanya saja, sebuah senyum indah tersungging di bibirnya yang keriput dan lesi.

Aku tak menyangka, itu adalah saat terakhir aku bertemu dengannya. Paginya, sebuah kabar duka kuterima. Mbah Insiyah, telah meninggal dunia.

Ada yang terasa dingin di dadaku. Sangat dingin …

 

* * *

Cerita tentang tentang Mbah Insiyah ternyata belum khatam. Terus berlanjut, sampai beberapa bulan sesudah kematiannya yang hanya beberapa hari usai lebaran. Saat suara embikan kambing dan lenguhan sapi yang hendak dijadikan hewan kurban memenuhi halaman masjid, kembali sebuah kisah unik berkelintar di memoriku.

“Pak Ahmad, ini ada dana yang dititipkan oleh almarhum Mbah Insiyah, senilai satu ekor kambing,” ujar Pak Jamin, pengurus takmir masjid. Ahmad adalah nama suamiku, yang juga pengurus takmir masjid.

“Maksud Pak Jamin?”

“Sebelum meninggal, Mbah Insiyah menitipkan uang ini kepada saya. Katanya, beliau ingin ikut qurban satu ekor kambing. Beliau menitipkan uang ini kepada saya, karena takut beliau keburu dipanggil Allah ….”

Sepasang mataku sungguh terasa panas. Ada cairan merembes, ingin menjebol bendungan air mata. Inikah tanda-tanda khusnul khatimah? Dipermudah untuk beramal shalih, meskipun dalam balutan kemiskinan yang begitu parah …

Semoga Allah merahmatimu, Mbah Insiyah …. Dan semoga aku bisa mengikuti jejak langkahmu yang begitu fasih menebar kebaikan di dunia ini.

 

 

 

DATA PENULIS

Afifah Afra, adalah nama pena dari Yeni Mulati. Tinggal di Lemah Abang RT 05 RW 21 Kadipiro, Banjarsari, Surakarta. Lahir di Purbalingga, 18 Februari 1979. Telah menikah dengan dr. Ahmad Supriyanto, 8 tahun silam, dan kini telah memiliki 2 orang putera.

Rajin menulis sejak kecil, dan Alhamdulillah, beberapa bukunya telah diterbitkan. Aktivitas, sebagai ketua FLP Jawa Tengah.

Mihrab Mercon dan Kontes Wortel 1 Milyar

Pemenang Pertama Lomba Menulis Hikmah Ramadhan IMSA-FLP AC 2011

Mihrab Mercon dan Kontes Wortel 1 Milyar

The greatest thing in the world is not so much where we are,

but in what direction we are moving….

—Oliver Wendell Holmes

                                                        

Asa Mulchias

 

Masih terkenang Magrib itu, petang jelang 1 Ramadhan. Ubun disesaki keinginan dan ekspektasi. Berdentam bak meriam zaman kompeni. Tetap berletupan hingga tunai tasyahud Isya—dan tibalah Tarawih pertama. Ditegakkan dalam barisan teratur, manis, dan rapi. Ah, rasanya cukup beruntung menemukan masjid itu. Relatif sunyi, tidak berjejalan seperti pasar malam, di mana lamat-syahdu bacaan imam. Al-Fatihah ditahsinkan, bukan mirip rapalan mantera—yang seolah disyaratkan saman ditunaikan dalam satu tarikan. Gerakan-gerakan kenal tuma’ninah. Tidak dikejar setoran. Tidak pula serupa senam kesehatan. Delapan rakaat dan witir yang menentramkan. Disambung sedikit mendawam Qur’an. Terlelap beberapa jam. Terbangun, sahur dengan nyamuk-nyamuk singit, berkawan bintang. Ber-‘azzam. Tunaikan Subuh pertama. Warnai hari ‘tuk lebih dekat dengan Robbi. Taburi pagi dengan ayat-ayat. Dzuhur melirih. Ashar merepih. Lalu berbuka dengan telapak terangkat, mengemis, dan berangkat—Magrib 2 Ramadhan menanti, setelah diprolog iqamat.

Ah, bulan suci… selalu berhasil membuat kita sedikit lebih salih dari daily. Ada sesusup energi yang kita kuat-rasakan sama, manifestasi bisik-dengung dalam batok kepala: urgensi. Sesuatu karena atsar tarhib-tarhib nan marak. Mimbar-mimbar Jumat. Ceramah televisi. Buletin, majalah, artikel koran religi. Dan, kita terimingi: catatan amal yang mengetuk-ngetuk ampunan. Bantai habis dosa-dosa. Berkalang cahaya mulia.

Ya, karenanya itu… untuk itu kita berpayah-payah. Jalan ke surau—dan upayakan wajib berjamaah. Sunnah dilakon, walau kadang menguap di rakaat-rakaatnya. Dzikir sampai mulut basah. Khatamkan Al-Furqan, boleh satu, dua, atau lima! Jika sudah target, tak masalah. Kita pepet-pepetkan jadwal dunia: tak rugi, ini bulan dilipatganda. Tertarik pula sedekah harta, yang belakangan digembor-gembor matematika pengembaliannya. Sampai tak bersisa bimbang di dasar jiwa. Mantap, bulat, demi ganjaran-ganjaran akbar. Tulus bukan buatan. Tak lupa susun berbanjar pinta. Karena doa juga masuk pemberat mizan yaumil-Nya.

Semua terasa takwa. Sayangnya… hanya terasa. Sebentar saja. Dianggap seolah panas kotoran ayam di hati kita. Yang begitu cepat, tiba-tiba saja, mengganti slide-slide Power Point ‘ubudiyah dengan adegan-adegan Syawal—yang menjawab nestapa kerontang-lapar di bulan puasa.

Sejatinya, ini telah disindir para ‘alim di atas panggung. Berbagai sempat dan kultum. Kita tertawa—karena kadang dibawakan dengan analogi jenaka. Kita terdiam—karena tak jarang di-tabligh-kan seperti menguliti. Ya, rata-rata kita tahu: Ramadhan hanya ada di seminggu pertama. Sesi tengahnya sudah mengendur, menuju tabiat semula: hari-hari sebelum hari-hari Al-Baqarah satu delapan tiga. Closing-nya? Jangan ditanya. Bukannya itikaf, malam ganjil habis bertawaf di matahari yang menjual baju dan celana. Atau, duduk kekenyangan, mengemil, tonton film atau sepakbola. Atau mengepak barang dan antri tiket di stasiun-stasiun ternama. Berkendara menuju kampung, membawa THR—harga diri untuk dipajang keliling di hari raya. Orang sukses. Banyak uang. Lebih mapan. Cantik atau tampan.

Siklus mengerikan: demikian yang berulang. Memilin manusia dalam pusaran. Dikekang kendali, boneka bertali. Dalam peran-peran badut geli—tanpa bahak-bahak gembira. Berdandan dan menghibur. Hanya bertepuk tangan untuk menampilkan realita kita. Satir, tapi bagaimana. Puruk, namun mau apa. Teater bangsa seperti kaset rusak. Bunyinya seperti celoteh kecoak. Akan tetapi, kenapa tetap diputar!?

Oh, asbab-nya: tak ada yang bosan. Karena tak ada naskah baru untuk dipelajari. Semua ini seperti pentas Romeo-Juliet yang fenomenal: dihapal, basi, dan sakral. Kita sulit memainkan peran-peran dari cerita lain. Bukan karena tak mampu. Tapi ini terlalu menyenangkan. Tak peduli di-rewind terus-terusan. Nyatanya tak pernah ditekuri sebagai keresahan. Untuk itulah, kita menyambutnya gembira seperti petasan. Terbayang indahnya, disulut sumbunya, nanti dalam debar, dan BLARR! Ornamen api warna-warni menari. Lima detik pun tak ada. Tepuk tangan. Tak bersedih walau pertunjukan aduhai terlalu cepatnya. Sebab masih ada petasan yang lain untuk dibakar: Idul Fitri. Berkeping-keping mengagumkan. Menerangi sejenak. Menyebarkan bubuk tidur bersama ledakan. Orang-orang pulang, ngorok keletihan, bunga tidur macam-macam, dan bangun kembali untuk hanguskan petasan. Tepatnya tahun depan. Magrib perdana 1 Ramadhan.

Ah, Kawan… tolong katakan. Ini wajar atau tanda: kita memang tak berbakat masuk surga?

Sekonyong teringat syair yang masyhur, sampai didendangkan artis-artis kenamaan. Mengaku tak layak ke jannah, dan terburu mengucap eksepsi: tak tahan timah-didih siksaNya. Dibungkus dengan syahdu, khusyuk, meski jika kita tarik sebersit kesimpulan: sebenarnya apa yang lirik itu pinta? Antara kepasrahan dan tak berbuat apa-apa. Antara ikhlas, tapi memohon agar tak terjadi. Padahal Allah janji kabulkan harap. Lalu, kenapa membuat bait-bait yang ambigu namun meratap?

Mungkin ini buah dari pelik memahami diri. Yang lemah, tapi durhaka. Yang rapuh, namun bergaya. Yang tahu kebaikan, tapi kelewatan. Yang mengidamkan keabadian, namun malas beramal. Celakanya justru terjadi di waktu syaitan dibelenggu. Pintu-pintu rahmat dibuka. Malaikat turun dan banyak memohon ampun. Lho, kenapa kita malah mabok berkunang. Knock out di dua dan tiga per tiga. Dihajar bogem syahwat ber-Lebaran dengan segenap perilaku miring. Yang ditahan-tahan tak ikhlas sebulan lamanya.

Ya, sebenarnya kita ini kenapa? Setengah gila—atau sinting ala kadarnya? Kenapa kita punya jiwa amburadul model begini? Ada apa dengan hati? Apa ia sudah kronis-sekarat-hampir mati? Atau, kita saja yang memang ditakdirkan jadi manusia tak berguna, dihidupkan untuk menemani Iblis di neraka?

Kawan, telusur sebentar. Duduk diam dan tengok perlahan. Kita mulai seperti mengeja—bila kau takut ada yang tertinggal. Terlupa. Terabai. Sesuatu yang teronggok lama di antara pendar akal. Menelisik dan memetakan: di mana sikap bengkok tak karuan.

Titik permula, kita bisa mulai dari masalah cita-cita. Tepatnya hari kau dengar isbath Menteri Agama. Senja merah yang perlahan temaram, berganti gulita dan secuplik pemandangan tsuraiyya. Pikiran melayang, membaktikan diri mencari gagasan-gagasan Ramadhan. Ingin sebanyak apa rukukmu bulan itu. Ingin sederma apa infakmu bulan itu. Ingin berapa suhuf kau lafadzkan….

Coba tekuri: baguskah visi semacam itu?

Um, bodohnya! Tentu saja, iya. Kaupasang saja palang tanda sakit kepala bagi yang menghina. Hanya saja, jujur: apa yang kita cari dari sana?

Kita semua paham: Ramadhan istimewa. Ada iming-iming yang tak terdengar di bulan lain. Karenanya, sebagian besar manusia beramal untuk cari perkaliannya. Shalatlah di Ramadhan, maka megah derajatnya. Bacalah kitab suci, maka kau dapati satu huruf kan dibalas beratus kebaikan. Sedekahlah, maka seolah kau akan dihujani kemuliaan. Membentuk satu ide besar: raksasa betul pahala yang bisa kita kumpulkan. Ramadhan memang spektakuler! Bulan lain? Biasa saja. Oleh karenanya, kita pun tidak berpikir banyak di fajar bulan sepuluh. Tidak berharap banyak. Tidak bercita-cita banyak. Ramadhan tetap Ramadhan. Bulan lain, ya bulan lain. Ada perbedaan mencolok antara keduanya.

Sangat terasa memang, betapa manusia menyanjung Ramadhan—dan mendiskreditkan sebelas bulan sisanya dalam kalender Islam. Meski Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram adalah hukamat, Sya’ban bulannya Muhammad, tetap saja Ramadhan seperti skak mat. Tidak mudah menyingkirkan ide itu—dan memang tak perlu pula dienyahkan. Ramadhan memang begitu. Tak tergantikan. Hadiah untuk umat Rasulullah, nabi akhir zaman.   

Cuma, kita mungkin sedikit lengah dari tabiat—hingga melatih habit yang salah. Kautahu: kalaupun suatu hari ada kontes makan wortel berhadiah Rp 1 Milyar, kau takkan mampu menang bila setiap hari gigimu hanya mengunyah bubur dan berjumpa susu. Walau hadiahnya ditambah lagi, entah emas seribu batang, perkebunan dengan aneka ranum dan sayuran, rumah yang gagah-tinggi—seperti bertingkat delapan, kita hanya akan sampai di bangku pendaftar dan kalah tak lama setelah peluit wasit dibunyikan. Tiga puluh—atau kurang satu—wortel yang dikompetisikan, kau akan angkat tangan di wortel ketujuh atau kesembilan. Alih-alih kau paksakan, kau mungkin merasa bosan. Kesakitan. Dan kesal—kenapa kontes ini diadakan. Peduli soal hadiah untuk para pemenang. Kau cuma ingin keluar dan mencari bubur kebiasaan. Jerih payah adalah bukan dirimu yang kaukenal.

Mungkin itu masalah kita: di sela-sela penyepelean atas nilai ibadah di bulan lain, kita kehilangan Ramadhan. Maksud hati memperlakukannya spesial, tapi malah ketiban sial. Salah siapa? Asumsi yang salah melahirkan perilaku dan mental yang salah. Sebab tidak perlu ada waktu yang dicipta tuk diremehkan. Sesungguhnya Tuhan kita, bahkan, kerap bersumpah deminya. Wadh-dhuha. Wallaili idza saja. Belum lagi Al-‘Ashr yang tiga. Tidakkah di sana kita lihat ketidakseriusan Sang Maha Pencipta?

Sedih memang. Inilah kita, makhluk yang senang berkubang. Dalam kedangkalan. Dalam kepicikan. For all these years, kita selalu punya chance untuk menggali lebih dalam—namun menolak. Karena apa? Cuma karena kita tidak terbiasa. Demikianlah kronologis yang membawa kita pada Lauhul Mahfudz edisi ini—sebuah pertunjukan kesalahan berpikir. Tragedi musiman. Belaka ter-frame pada wacana mendulang pahala—namun ceroboh lantaran parsial memandangnya. Seperti terbuai dengan cerita indahnya pemandangan di atas langit, tapi tak pernah menyiapkan sayap dan belajar menggunakannya. Layaknya terkagum dengan paparan terumbu karang, namun langsung menyelam tanpa belajar berenang dan lengkapi badan dengan alat selamnya.

Bagian ini, kita perlu menerima: belum lengkap kita menyambut Ramadhan selama ini. Jika telah paripurna, sebagaimana rukun Islam lainnya, output-nya harusnya takwa. Itulah mihrab kita mengevaluasi kembali prinsip. Sebagai muslim, sebagai hamba. Menebalkan iman yang tergerus dunia. Mengkritisi dengan jujur bagaimana cara kita memutuskan. Benarkah telah mengacu pada kebenaran? Atau malah terkerangkeng dalam kebebasan yang tak berlandasan? Menajamkan betul-betul: tujuan. Apakah kita terhitung sebagai ahsanu ‘amala—atau cuma mengira telah berbuat sebaiknya.

Wahai penyembah Ramadhan, sesungguhnya Ramadhan telah mati. Kelak ia akan hidup lagi, lalu kembali mati. Barangsiapa menyembahnya, dengarkan ini dengan hati: kau takkan mengerti apa itu takwa selama kau ibadah pilih-pilih hari. Alih-alih muttaqin, kau cuma registrasi untuk disorientasi. Sembahlah Allah, sebab Dia selalu ada di bulan mana pun kau bernyawa. Rukuklah, sujudlah, dan agungkanlah Dia—kapan pun, di mana pun jua. Berbuat baiklah, entah itu kecil atau besar. Sembunyi atau terang-terangan. Bila Allah ridha, tak perlu Ramadhan untuk memasukkanmu dalam daftar insan yang beruntung. Orang-orang yang tak dengar sedikit pun desis neraka. Duduk bersandar di atas dipan-dipan nyaman. Tak merasa susah, diselingi canda-riang—seraya memegang gelas-gelas kristal. Meminum air bercampur jahe. Yang dituang dari Salsabil penuh kasih sayang. [Asa Mulchias]